Chapter 32 Tiana mengamati wajahnya di kaca. Dia sudah sedikit berkeringat. Tiana memoles lagi wajahnya dengan bedak yang ia bawa lalu sedikit lipstik untuk bibir. Ia sudah kembali cantik, meski Tiana akan selalu cantik apa pun kondisinya. Beberapa orang anak perempuan memasuki toilet. Tiana melirik sekilas melewati kaca sebelum kembali menundukkan pandangannya, mencuci tangan. “To be honest, gue ngerasa Selena nggak sehebat itu. kalau bukan karena nama Djorka, dia sama aja kayak kita.” “Hm, gue juga mikir gitu sih. Dia kaya, kita juga kaya. Dia cantik, kita juga cantik. Kalau pinter sih lebih banyak yang pinter. Noa, lo lebih pinter dari dia. Bakat? Sejauh ini semua yang dia bisa juga kita bisa. Cheerleader? Gue nggak minat aja makanya nggak ikut cheers. Piano? I do better than her.

