Luka Tersembunyi Arunika

1806 Kata

Sebelum keberangkatannya ke Singapura, Mahadewan memilih datang lebih awal ke rumah sakit. Langit Jakarta masih berwarna keemasan pucat, matahari baru saja naik perlahan di balik gedung-gedung tinggi, memantulkan cahaya hangat yang masuk melalui balkon luas ruang VIP tempat Noelle dirawat. Udara pagi terasa lebih bersih, lebih tenang, lebih kontras dengan hari-hari sebelumnya yang dipenuhi ketegangan. Mahadewan duduk di kursi balkon, memangku Noelle di pangkuannya. Mangkok kecil berisi bubur hangat berada di tangannya, sesekali ia menyuapkan perlahan ke mulut putrinya yang tampak jauh lebih segar dibanding hari-hari sebelumnya. “Pelan-pelan, jangan buru-buru,” ucapnya datar, tapi nada itu tidak setajam biasanya. Noelle membuka mulutnya dengan patuh, lalu mengunyah dengan wajah serius, s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN