Arini menggeleng. Ia masih menolak untuk menerima pernyataan Irna. Perempuan tersebut menatap keduanya bingung. Lantas, atensinya beralih ke arah Arka. Mimik wajah pria tersebut juga sama kagetnya. “Ma, Anita. Mungkin, bisa bahas ini besok. Biar Arini istirahat dulu.” Arka berusaha melerai. Jujur, ia pun tidak nyaman dengan percakapan tersebut. Sampai akhirnya Arka mencari cara untuk menyelesaikan semuanya. Ia harap istri dan mertuanya mau menuruti permintaannya kali ini. Anita menggenggam tangan Irna. “Bener, Ma. Lebih baik, biarin Arin istirahat dulu.” Irna mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu, kamu istirahat dulu, Rin.” Perempuan itu mengangguk. “Iya, Ma.” “Tapi, tidurnya di kamar sebelah Mba, ya. Mulai sekarang, kamu nggak tinggal di paviliun lagi. Kamu harus di rumah ini. Tidu

