Bulu kuduk Arini refleks berdiri begitu mendengar kalimat dari Arka. Tidak hanya sekadar isi kalimatnya, tetapi bagaimana cara pria itu berbicara dengan nada rendah dan suara seraknya benar-benar seperti seseorang yang hasratnya sudah di ujung tanduk. Kepala Arini menggeleng beberapa kali, menghindari lumatan Arka pada bibir ranumnya. Ia mendorong d.a.da pria tersebut sekuat tenaga hingga tubuh sang suami sedikit bergeser ke samping karena belum siap. Arini tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kali ini. Cepat, perempuan itu bangun dengan napas yang masih sedikit tersengal. Ia raih gagang pintu kamar yang syukurnya tidak terkunci. Begitu terbuka, tanpa menatap Arka satu kali lagi, Arini membawa kedua kakinya untuk berlari secepat yang ia bisa. Arini menoleh ke belakang begitu tiba di pi

