"Mama nggak sembunyiin dia, Ar. Demi Tuhan Mama nggak pernah lagi ganggu Arini, apalagi sejak tau Arini anak Jeng Irna. Tapi, ...." Suara Samira perlahan mengecil di akhir kalimat. Wajahnya yang semula dipenuhi rasa takut kini terlihat ragu, seolah sedang mempertimbangkan apakah ia perlu mengungkapkan sesuatu yang selama ini masih mengganjal di pikirannya. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Tatapannya beralih dari Arka ke Mahesa, lalu kembali lagi ke putranya. Kalimat Samira yang tidak selesai itu membuat mereka menatap kompak ke arah Samira. Tidak ada yang bersuara. Bahkan Klarisa yang sejak tadi menangis pun ikut terdiam, hanya menyisakan isak yang terdengar berulang kali. Semua menunggu wanita paruh baya itu melanjutkan ucapannya. "Bicara yang jelas, Ma." Arka mende

