Bab 148

2735 Kata

Yudi membuka pintu lebih lebar. “Masuk dulu saja, Mas Dewa.” Sadewa melangkah masuk dengan kantong plastik di tangannya. Matanya menyapu ruang makan sebentar, menatap meja yang masih penuh makanan, juga orang-orang yang duduk di sana. Setelah itu, senyum tipis muncul di bibirnya, sopan seperti biasa. “Maaf ganggu waktu makan. Tadi stok jamunya baru dateng, jadi langsung saya antarkan sekalian.” “Justru bagus,” potong Narsih cepat. Ia bergegas berdiri, mengambil kantong plastik dari tangan Sadewa. Raut wajahnya tampak jauh lebih lega setelah melihat isi kantong tersebut. “Bapak sama Ibu emang lagi butuh. Udah beberapa minggu nggak minum.” “Iya, Bude.” Sadewa tertawa kecil. Yudi menepuk punggung kursi kosong di sisi meja. “Sudah makan belum, Mas?” “Saya—“ “Belum ini.” Narsih menyela d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN