Bab 161

2479 Kata

Cukup lama Arini menunggu di samping tempat tidur. Jemarinya tidak berhenti saling bertaut sejak tadi. Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang membuat ketenangannya terkikis habis. Sampai akhirnya, kelopak mata Irna bergerak pelan, tanda bahwa wanita itu mulai sadar. Kamar tersebut tidak lagi hanya diisi oleh mereka berdua. Anita dan Raka sudah berada di sana sejak beberapa waktu lalu dengan wajah yang sama-sama diliputi kecemasan. Anita duduk di kursi dekat tempat tidur, sementara Raka berdiri tidak jauh dari kepala ranjang dengan kedua tangan bertolak di pinggang. Keduanya sudah menunggu sejak lama. “Anita ....” Panggilan lirih itu lolos dari bibir Irna yang masih terlihat pucat. Matanya terbuka pelan. Suaranya begitu lirih dan sedikit lemah. Anita gegas mendekat begitu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN