Arka tidak langsung masuk ke dalam rumah Sadewa. Pria itu tetap berdiri di ambang pintu dengan rahang mengeras. Matanya terpaku pada dua tangan Sadewa yang masih berada di bahu Arini. Sementara di dalam rumah, Arini terlihat buru-buru mundur selangkah. Perempuan itu bahkan tampak tidak nyaman dengan kedekatan tersebut. “Mas, lepas!” Arini sedikit menyentak ketika pelukan itu terasa begitu erat. Namun, rupanya Sadewa begitu keras kepala. Ia enggan melepas pelukan tersebut. Dagunya malah bertumpu ke bahu Arini. Pria itu menghirup ceruk leher Arini dalam-dalam. “Saya kangen sama kamu, Rin.” Tubuh Arini gemetar. Ia bersusah payah untuk melepas pelukan itu. Sampai akhirnya, perempuan tersebut benar-benar lepas. Ia menatap kesal ke arah Sadewa. “Lain kali jangan lancang, Mas!” ujar Arini

