Tak tahu berapa lama kami berciuman. Sepertinya, bibir kamu tahu kapan harus mengambil jeda. Kami berpandangan lagi. Tak ada kalimat apapun. Kami seperti tahu apa yang harus dilakukan. Aku mengambil inisiatif, bibirnya kembali kuserang. Ia menerima dengan lembut, sekali lagi. Tangannya mulai menggerayangi punggungku. Aku melakukan hal yang sama. Ia kemudian melepas jilbabnya. Kutahan. Aku ingin ia tetap memakainya, sampai waktu yang pas untuk melihatnya tanpa sehelai benang pun. Ia tak protes kami tetap berciuman. Menjelajahi rongga mulut masing-masing. Mengeksplorasi jengkal lidah masing-masing. Juga setiap sudut bibir. Aku mulai melepaskan kancing kemeja longgarnya satu per satu. Ia memberi jalan. Dan membantunya. Tak butuh waktu lama, tinggal bra yang membungkus p******a. Ukurannya cuku

