Kuanggap sebagai mainan baru yang selalu kumainkan terus menerus hingga bosan. Kalau bosan ya berarti cari mainan baru lagi. Aku tak tahu dan tak ingin tahu perihal hitam dunia ini. Aku hanya ingin menikmati. Itu saja. Mudah-mudahan langkah yang kuambil tak salah. Agar aku bisa dengan mudah keluar, kapan pun aku mau. Keluar dari kamar mandi, Anti sudah tak ada di kamar. Lekas ku berpakaian dan keluar ke ruang tengah, di mana orang-orangtadi berkumpul. "Seger?" Milly menyambutku dengan senyuman menenangkan "Lumayan. Setelah bermacet-macet tadi" aku membalas dan segera berada di sampingnya, kami duduk di sofa Terlihat ada seorang lagi laki-laki yang sepertinya berusia diatasku. Aku hanya melempar senyum. Aku tak menemukan keberadaan Agil di antara mereka. "Lang, ini Mas Wira, keponakan

