Setidaknya, bermain bersama Milan dan Cairo mampu mengusir sedikit kesedihan yang sempat bersemayam di hati Nada. Awalnya, ia tidak terlalu antusias menemani dua bocah itu bermain. Nada menyangka akan bosan dan hanya menjadi pengawas tanpa banyak berinteraksi. Namun, tawa mereka begitu menular. Setiap kali Milan tertawa lepas saat meluncur dari perosotan atau Cairo yang berseru penuh semangat setiap mencoba mainan di sana, Nada tanpa sadar ikut tersenyum. Ada kehangatan yang perlahan merambat ke dalam hati dan mengingatkan bahwa kebahagiaan kadang datang dari hal-hal sederhana. Untuk sesaat, Nada bisa melupakan perasaan sepi yang belakangan sering menyergapnya. Terlebih, ketika Milan juga mengajaknya untuk ikut bermain dalam permainan tersebut. Tidak seperti Sastra, yang hanya duduk dia

