76

1110 Kata

“Cangkemu ya Le!” Mulut kamu ya Nak!— murka Sukma. Jarinya menunjuk Hang. Iek ngomong naon, Gusti?! Amel teu ngarti. – Ini ngomong apa, Tuhan? Amel nggak paham. “Keno bledek malaikat kapok lambemu! Ojo guyon ngono meneh! Ibu ora seneng!”  Mulut kamu kalau tersambar petir dari malaikat, Kapok! Jangan bercanda seperti itu lagi! Ibu nggak suka! Hang langsung mengkerut. Tubuh besar Hang berlindung di belakang milik sang istri. Tangannya bahkan mencengkeram pundak Amel, membuat si empunya meringis. “Perih, Mas!” ringis Amel. “Takut, Yang. Ibu serem kalau bahasa jawanya udah keluar gini.” Bisik Hanggono di telinga kiri Amel. Memang benar sih. Amel juga jadi takut kalau begini. Sukma masih terus memijat kepala. Ia meminta Amel untuk memanggilkan Sarah agar membawa dirinya pulang ke rumah. G

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN