Bersama Thomas, Elaina pergi butik Lucinta. Berada di kawasan pertokoan, mereka masuk ke sebuah ruko dengan interior elegan. Elaina dibuat kagum dengan gaun-gaun yang dipajang di etalase depan. Semuanya gaun indah dengan berbagai warna dan model yang elegan. “Selamat datang di butikku.” Lucinta membuka pintu. Lebih banyak gaun-gaun di dalam lemari kaca. Herannya, tidak ada orang sama sekali di dalam. Berbeda dengan bayangan Elaina kalau di toko akan penuh pengunjung. Mengingat betapa bagus gaun-gaun yang ada di etalase. “Kamu baru buka?” tanya Elaina. Lucinta menggeleng. “Nggak, udah dari tadi. Kenapa, heran karena sepi?” Elaina tersenyum malu karena Lucinta bisa menebak pikirannya. “Sehari-hari memang begini. Entahlah, apa yang bikin orang-orang itu enggan masuk kemari.” “Mereka pa

