Ketika Anda mengunjungi situs web kami, jika Anda memberikan persetujuan, kami akan menggunakan cookie untuk mengumpulkan data statistik gabungan guna meningkatkan layanan kami dan mengingat pilihan Anda untuk kunjungan berikutnya. Kebijakan Cookie & Kebijakan Privasi
Pembaca yang Terhormat, kami membutuhkan cookie supaya situs web kami tetap berjalan dengan lancar dan menawarkan konten yang dipersonalisasi untuk memenuhi kebutuhan Anda dengan lebih baik, sehingga kami dapat memastikan pengalaman membaca yang terbaik. Anda dapat mengubah izin Anda terhadap pengaturan cookie di bawah ini kapan saja.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
“Iya … Rarendra memang sangat mencintai Sasmita. Mereka tak terpisahkan, sedangkan Sasmita terlihat sangat bahagia. Dan karena itu juga, … aku enggak suka. Tadi itu hadiah buat Sasmita, meski aku juga masih punya banyak hadiah lagi. Kurang apa coba aku ke Sasmita …? Intinya, semakin Sasmita bahagia, semakin besar pula kebencianku kepadanya!” Setelah bertutur lirih tak berdosa, Sarnia yang tengah mengemudi justru tertawa lepas. Tawa kemenangan yang dipenuhi kebahagiaan. “Sasmita … Sasmita. Kamu yah … sama saja dengan ibumu. Hmm … ke depannya, … ke depannya kamu cukup menunggu kejutan-kejutan terbaru dariku.” “Selamat menikmati luka yang seharusnya aku lakukan dari dulu, Sasmita. Bersakit-sakitlah!” Sarnia memang pelaku penabrakan Sasmita. Sarnia sengaja melakukannya dikarenakan melihat