Satu tamparan keras mendarat di pipi Maura, membuat wajahnya terasa panas. Dia terhuyung mundur, kaget sekaligus bingung. Ketukan di pintu yang sempat dia kira Abimanyu, ternyata bukan. Di hadapannya kini berdiri seorang wanita cantik dengan wajah penuh amarah. Tak sendirian, wanita itu ditemani oleh dua orang di sisi kanan dan kiri yang menandakan bahwa dia bukan orang biasa. Ya, sebenarnya Maura cukup familiar dengan wanita itu. Wajahnya cukup mudah di temui di pusat perbelanjaan ataupun televisi, hanya saja Maura tidak tahu apa tujuannya ke sini. Tak ayal, tubuh Maura mendadak dingin dan gemetar. Wanita itu menatapnya dengan tajam, seolah ingin menelannya bulat-bulat. "Siapa kalian?" tanya Maura dengan suara bergetar, mencoba mengumpulkan keberanian meski hatinya dipenuhi ketakuta

