Chapter 19

1788 Kata
Berikut lanjutan kisahnya — dengan nuansa cemburu, luka batin, dan gengsi antara Rafael dan Aruna: --- Bab: Wanita dari Masa Lalu Malam mulai larut ketika Brittany, wanita berambut pirang dengan tubuh semampai dan pakaian ketat yang berkilau, turun dari mobil hitam mewah di halaman mansion. Suara hak sepatunya berdentang di lantai marmer, menarik perhatian semua orang yang sedang berjaga. Para pelayan langsung menunduk, sadar siapa yang baru saja datang — salah satu wanita yang dulu sering menemani Rafael di pesta-pesta mafia. Rafael baru saja turun dari lantai dua ketika suara manja itu terdengar, > “Rafael…” Nada suaranya lembut tapi menggoda, penuh kenangan yang tak pantas disebut di depan orang banyak. Rafael menoleh cepat. Alisnya sedikit berkerut, namun belum sempat ia berkata apa pun, Brittany sudah memeluknya dari belakang. Tangannya melingkar di d**a Rafael, tubuhnya menempel erat seperti tidak ada jarak di antara mereka. > “Kau tidak merindukanku, hm?” bisik Brittany dengan senyum nakal, cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan itu. Para pelayan yang lewat pura-pura tidak melihat, menunduk lebih dalam. Hanya Aruna, yang kebetulan berjalan pelan membawa baki berisi air hangat di tangannya, terhenti di ambang pintu ruang utama. Matanya membulat. Pemandangan di depannya membuat dadanya terasa sesak — Rafael, pria yang selama ini membuatnya menangis, kini tampak begitu akrab dalam pelukan wanita lain. Senyum Brittany begitu bangga, seolah ingin menunjukkan sesuatu: aku yang diinginkan Rafael, bukan kau. Rafael menyadari tatapan itu. Sekilas, pandangannya bertemu dengan mata Aruna yang memantulkan campuran marah dan luka. Tapi gengsinya menahannya untuk menjelaskan apa pun. Sebaliknya, ia membiarkan Brittany tetap di pelukannya, meski wajahnya datar tanpa ekspresi. > “Kau masih berani datang ke sini tanpa izin?” suara Rafael rendah tapi tak menolak. “Aku merindukan tempat ini,” jawab Brittany genit. “Dan tentu saja, merindukanmu.” Aruna menunduk cepat, menahan air matanya agar tidak jatuh di depan semua orang. Tangannya bergetar saat meletakkan baki di meja samping. Tanpa berkata sepatah pun, ia segera berbalik meninggalkan ruangan itu — langkahnya cepat, seolah ingin lari dari kenyataan yang baru saja ia lihat. Namun sebelum menghilang di balik koridor, Rafael sempat melihat bayangan Aruna yang menjauh. Ada sesuatu di dadanya yang terasa perih — sesuatu yang ingin ia abaikan, tapi tak bisa. Brittany masih menempel di tubuhnya, berbisik lembut, > “Kau tak berubah, Rafael. Masih dingin… tapi aku tahu kau merindukanku.” Rafael menatap kosong ke arah tangga tempat Aruna menghilang. “Aku tak merindukan siapa pun,” jawabnya datar. Tapi suaranya terdengar bergetar tipis, seolah menahan sesuatu yang tak ingin ia tunjukkan. ***** Kamar kecil di lantai belakang mansion itu terasa sunyi malam itu. Hanya suara hujan rintik di luar jendela yang menemani Aruna, yang duduk di tepi ranjang sambil menatap kosong ke arah lantai. Cahaya lampu kuning temaram menyoroti wajahnya yang pucat dan mata sembabnya. Sudah lama ia berhenti menangis. Air matanya seakan habis, digantikan dengan keheningan yang menyesakkan d**a. Pemandangan yang tadi ia lihat — Rafael mencium Brittany di ruang tamu — terus terulang di pikirannya. Tapi kali ini, bukan kemarahan yang ia rasakan, melainkan kesadaran yang menampar hatinya keras-keras. > “Dia memang seperti itu,” bisiknya lirih. “Aku bodoh… terlalu berharap.” Aruna memeluk dirinya sendiri, berusaha menenangkan napas yang mulai tercekat. Ia tahu sejak awal, Rafael bukan pria yang bisa memiliki perasaan. Ia adalah mafia, lelaki dengan tangan berlumur darah dan hati yang diselimuti keangkuhan. Dia hanya melihat Aruna sebagai tebusan hutang, mungkin juga sebagai alat pelampiasan saat keinginannya datang. Dan kini, melihat Rafael dengan wanita lain, Aruna sadar — ia hanyalah bagian kecil dari permainan dingin yang dimainkan pria itu. > “Dia tidak akan pernah peduli,” gumamnya dengan senyum getir. “Aku hanya angka dalam daftar dendamnya. Tidak lebih.” Namun, meski pikirannya berusaha menerima, hatinya tetap berontak. Ada bagian dari dirinya yang masih berharap Rafael akan datang, menjelaskan, atau sekadar menatapnya dengan mata yang sama seperti dulu saat ia menyelamatkannya dari Marco. Tapi malam berlalu, dan tak ada langkah kaki mendekat. Yang ada hanya sunyi… dan rasa dingin yang merayap hingga ke d**a. Aruna menarik selimut, membaringkan diri perlahan. Ia menatap langit-langit kamar, menahan perih di d**a yang makin sesak. “Mulai besok… aku takkan menangis lagi,” ucapnya tegas dalam bisikan. “Aku akan bertahan di sini, tapi bukan karena dia. Aku akan bertahan karena aku kuat.” Untuk pertama kalinya, Aruna memejamkan mata bukan karena lelah… melainkan karena ia mulai belajar melepaskan, meski hatinya masih hancur. Kamar utama di lantai atas dipenuhi cahaya temaram lilin aromaterapi. Tirai sutra bergoyang pelan diterpa angin malam, sementara dentingan hujan di luar jendela menjadi musik latar yang pelan namun menusuk. Brittany duduk di ujung ranjang, mengenakan gaun tidur tipis, senyumnya menggoda. Ia mendekat, tangannya melingkari leher Rafael. > “Kau masih sama seperti dulu,” bisiknya lembut. “Tegas di luar, tapi kosong di dalam.” Rafael hanya diam. Ia menatap ke depan, wajahnya tanpa ekspresi. Namun di balik tatapan dingin itu, pikirannya tidak tenang. Setiap kali Brittany menyentuhnya, bayangan wajah lain muncul di benaknya — wajah Aruna. Mata gadis itu… tatapan takut dan kecewanya saat melihat Rafael bersama Brittany di ruang tamu — terus menghantui pikirannya. Dan entah kenapa, setiap kali Rafael mencoba menghapusnya, bayangan itu justru semakin jelas. Brittany memperhatikan perubahan di wajahnya, lalu tersenyum sinis. “Kau memikirkan gadis itu, bukan?” ucapnya dengan nada setengah mengejek. “Pelayan kecil yang selalu menunduk saat kau lewat.” Rafael menatapnya tajam, nada suaranya dingin. “Diam.” Namun Brittany tidak mundur. Ia mendekatkan wajahnya ke d**a Rafael, lalu berbisik pelan, "Dia bukan selevel denganmu, Rafael. Jangan bodoh karena rasa kasihan.” Kata-kata itu membuat rahang Rafael menegang. Ia berdiri tiba-tiba, berjalan ke arah jendela, memandangi hujan yang semakin deras. Tangannya mengepal, napasnya berat. “Aku tidak kasihan padanya,” katanya tegas, tapi nada suaranya terdengar ragu — seperti seseorang yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Dia hanya… tanggung jawabku.” Brittany tertawa pelan, lalu berbaring kembali di ranjang. “Jika begitu, kenapa wajahnya menghantuimu bahkan saat kau bersamaku?” Rafael tidak menjawab. Ia hanya berdiri di depan jendela, memandangi refleksinya yang tampak gelap dalam bayangan kaca. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dan malam itu, meski Brittany berada di kamar yang sama dengannya, Rafael tahu… hanya nama Aruna yang terus bergema di kepalanya hingga fajar datang. ***** Malam itu udara terasa berat. Langit di atas mansion Rafael diselimuti awan kelabu, petir sesekali menyambar jauh di kejauhan. Aruna berdiri di dekat jendela kamarnya yang sempit, menatap ke luar. Daun-daun di halaman berjatuhan diterpa angin, seolah ikut mengerti betapa resah hatinya. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi hatinya jauh lebih lelah. Setiap kali menutup mata, bayangan Rafael bersama wanita lain itu kembali datang, seperti luka yang belum sempat kering tapi terus disayat lagi dan lagi. "Aku bukan siapa-siapa,” gumam Aruna pelan. “Tapi aku masih punya harga diri.” Ia menatap koper kecil di sudut kamar. Sudah beberapa hari ia menyembunyikan sedikit uang hasil dari bekerja membersihkan mansion. Tidak banyak, tapi cukup untuk bertahan beberapa hari di luar. Ia tak tahu harus ke mana, tapi satu hal pasti — ia tak bisa terus berada di sini. Suara langkah kaki pelan terdengar di luar kamar. Aruna cepat-cepat menutup koper itu dan pura-pura merapikan ranjang. Ketika pintu terbuka, tampak pelayan tua bernama Lena, satu-satunya orang yang kadang memperlakukannya dengan ramah. “Aruna, nona… kau belum tidur?” tanya Lena lembut. “Belum, Bu. Saya hanya sedang beres-beres.” “Rafael masih di ruang kerja. Katanya besok akan pergi urusan bisnis ke luar kota. Kau… mau aku bawakan sesuatu?” “Tidak usah, terima kasih.” Lena tersenyum, meski sorot matanya menunjukkan kekhawatiran. “Hati-hati, nak. Aku tahu kau gadis baik, tapi dunia di sekitar Rafael… terlalu gelap untuk hatimu yang bersih.” Aruna hanya mengangguk, dan setelah Lena pergi, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan. Ia memejamkan mata, menggenggam salib kecil di lehernya — satu-satunya peninggalan dari ibunya. “Ma, doakan Aruna bisa pulang…” Malam semakin larut. Saat jam dinding berdentang menandai pukul dua belas lewat tiga puluh, Aruna membuka pintu kamarnya perlahan. Suara hujan di luar membantu menutupi langkahnya. Ia menapaki lorong panjang yang remang, melewati ruang tamu yang kini gelap. Namun ketika ia sampai di pintu belakang, suara berat itu terdengar dari kegelapan. “Kau mau ke mana, Aruna?” Langkah Aruna terhenti. Tubuhnya menegang, perlahan menoleh. Di sana Rafael berdiri di bawah cahaya redup, kemejanya setengah terbuka, wajahnya dingin tapi matanya tajam menatap ke arahnya. “Aku… aku hanya ingin pergi,” jawab Aruna lirih, suaranya bergetar. “Pergi?” Rafael melangkah mendekat, suaranya menekan. “Setelah semua yang aku lakukan untukmu?” “Kau tidak melakukan apa pun untukku,” ucap Aruna, kali ini lebih tegas. “Kau hanya… menghukumku.” Rafael berhenti tepat di hadapannya. Hujan turun semakin deras di luar, menyamarkan ketegangan di antara mereka. Beberapa detik berlalu tanpa suara, sampai Rafael mengulurkan tangan, menggenggam dagu Aruna dengan lembut namun tegas. “Kau pikir dunia di luar sana akan lebih baik dariku, Aruna?” bisiknya. “Di luar sana, tidak ada yang akan melindungimu.” “Aku tidak butuh perlindunganmu,” jawab Aruna dengan air mata menetes di pipi. “Aku hanya butuh kebebasan.” Rafael menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya — bukan kemarahan, melainkan rasa takut yang ia sendiri tak ingin akui. Tapi egonya menutupi semuanya. Ia menunduk sedikit, bibirnya menyentuh telinga Aruna. “Kalau begitu, coba saja pergi. Tapi ingat… selama aku masih hidup, dunia ini tidak akan membiarkanmu bebas dariku.” Aruna menatapnya dengan mata bergetar, lalu menarik napas panjang — berusaha menahan tangis yang hampir pecah. “Kau mungkin bisa mengurung tubuhku, Rafael…” “Tapi kau tidak akan pernah bisa mengurung hatiku.” Rafael tanpa bicara mengangkat tubuh Aruna seperti karung beras menuju sebuah kamar tamu di mansionnya. Dan membanting tubuh Aruna ke ranjang, Rafael seperti sing yang sedang kelaparan. Dia melepaskan semua yang menutupi tubuh Aruna. Merobeknya dengan cepat. "Tidakkkkk, jangan lakukan lagi, aku tidak mau Rafael!"Teriak Aruna. "Berteriaklah, kau adalah wanitaku, milikku, aku bebas melakukan apapun yang kumau padamu."Rafael dengan tatapan tajam suara dengan nafas memburu. Dengan bringas dan ganas bibirnya mulai bermain di lidah Aruna. Rafael pun menuntaskan hasratnya pada gadis malang tersebut. Padahal Brittany sedang menunggu malam itu di kamar Rafael. Dia sudah siap melewati malam hangat bersama Rafael. Tanpa tahu jika Rafael kini menikmati malam tersebut bersama Aruna. Meski dengan paksa. Setelah hampir 1 jam Rafael menuntaskan hasratnya. Aruna berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah gemetar, meninggalkan Rafael yang berdiri diam di tempat, menatap punggungnya yang perlahan menghilang dalam gelap. Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rafael merasa kalah — bukan oleh musuhnya, tapi oleh seorang wanita yang berani melawannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN