Malam yang awalnya terlihat elegan itu perlahan berubah menjadi medan permainan licik.
Musik lembut dari grand piano kini terasa seperti nada sinis yang menyertai rencana jahat Angela. Dari balik senyumnya yang manis, ia memantau setiap gerak Aruna — setiap tatapan gugup gadis itu di tengah kerabat kaya keluarga Adriano.
Angela menunggu waktu yang tepat, dan ketika makan malam hampir usai, ia melirik ke arah pelayan yang sudah ia beri isyarat sejak awal. Tak lama kemudian, suara gaduh terdengar dari pintu masuk ruang makan besar itu.
> “Tuan, mohon jangan masuk dalam keadaan begini!”
“Lepas! Aku… aku mau ketemu anakku! Di mana Aruna?! Aruna!”
Semua tamu langsung menoleh. Seorang pria paruh baya dengan pakaian kusut, bau alkohol yang menyengat, dan langkah sempoyongan memasuki ruangan megah itu. Itulah ayah Aruna — pria yang sudah lama menjauh dari hidupnya.
Aruna membeku di tempat. Matanya membesar, tubuhnya menegang. Ia berdiri spontan, menahan napas.
"Ayah?” suaranya hampir tak terdengar.
Angela pura-pura terkejut, tapi sudut bibirnya tersenyum puas. Ia berdiri anggun, menatap para tamu yang mulai berbisik.
“Oh Tuhan…” katanya lembut, namun nadanya dibuat seolah-olah iba. “Aku tidak tahu Aruna masih memiliki ayah. Aku pikir… dia sudah yatim piatu seperti yang dia ceritakan.”
Semua mata kini beralih ke Aruna. Wajah gadis itu memucat, dan Rafael menatap Angela tajam, mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Aroma alkohol semakin kuat ketika sang ayah mendekat, matanya sayu namun penuh emosi.
“Aruna! Kau di sini! Jadi benar… kau sekarang hidup mewah ya? Makan di tempat orang kaya!” Ia tertawa miris, langkahnya goyah. “Anak yang bahkan lupa pada ayahnya sendiri!”
“Ayah, jangan di sini, tolong…” Aruna mendekat dan mencoba memegang tangan ayahnya, tapi pria itu menepis kasar.
Angela menahan tawa di balik kipas kecilnya.
“Kasihan sekali… sepertinya keluarga gadis ini memang tidak terbiasa dengan kelas atas. Tapi siapa sangka, gadis sederhana seperti Aruna bisa duduk di meja yang sama dengan para pewaris Adriano?”
Beberapa tamu tertawa pelan, sebagian menatap Aruna dengan pandangan merendahkan.
Wajah Aruna kini merah padam antara malu dan sedih.
Tuan Adriano menatap tajam pada Rafael, seolah ingin tahu bagaimana anaknya akan menanggapi “pemandangan” memalukan itu.
Namun, sebelum Angela sempat menambahkan kata-kata racunnya lagi, Rafael berdiri dengan sorot mata yang dingin dan tajam.
"Cukup.”
Suara itu berat, tegas, dan menggema di ruangan besar. Semua orang terdiam.
Rafael berjalan ke depan, menatap sang ayah Aruna.
“Pak, saya Rafael Adriano. Terima kasih sudah datang. Tapi tolong, jangan membuat putri Anda merasa bersalah atas hal yang bukan kesalahannya.”
Pria itu menatap Rafael dengan bingung, lalu menunduk pelan — mungkin terkejut melihat bagaimana Rafael berbicara padanya tanpa merendahkan.
Rafael kemudian berbalik menatap Angela, suaranya menurun tapi tajam seperti pisau.
“Dan untukmu, Angela… permainanmu kotor.”
Angela membeku, namun tetap tersenyum pura-pura.
“Aku hanya—”
“Diam.” Rafael memotongnya dengan tatapan membunuh. “Jika kau ingin mempermalukan seseorang, jangan lakukan di rumah ayahku.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Para tamu mulai saling berbisik pelan, sebagian bahkan tampak tidak nyaman.
Rafael lalu menatap Aruna yang menunduk dengan air mata mengalir di pipinya. Ia mendekat, meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat di depan semua orang.
> “Aku tidak peduli dari mana asalmu, Aruna. Yang penting, aku tahu siapa kau sebenarnya.”
Ucapan itu sederhana — tapi bagi Aruna, terasa seperti pelindung yang sangat kuat.
Wajah Angela berubah pucat, senyum palsunya lenyap. Tuan Adriano menghela napas berat, menatap putranya lama.
Sementara itu, sang ayah Aruna mulai terisak pelan, menatap anak gadisnya dengan penuh penyesalan.
"Maafkan Ayah… Ayah cuma rindu…”
Malam itu, di kamar utama yang luas dan remang, Rafael menutup pintu perlahan. Aruna berdiri kaku di dekat ambang pintu, masih menunduk, menggenggam ujung bajunya dengan gugup.
Rafael melepas jas dan meletakkannya di sandaran kursi, lalu berjalan menuju minibar dan menuangkan air putih ke dua gelas.
"Minumlah,” katanya singkat, menyodorkan segelas pada Aruna.
Aruna menerimanya dengan tangan bergetar. Ia meneguk pelan, tapi matanya masih tertuju ke lantai.
"Kau masih takut padaku?” suara Rafael terdengar datar, tapi ada nada lembut tersembunyi di baliknya.
Aruna tidak langsung menjawab.
"Aku… hanya belum terbiasa,” jawabnya akhirnya. “Setiap kali aku melihatmu, aku teringat bagaimana kau datang menjemputku waktu itu.”
Rafael terdiam sejenak, lalu menatap wajah gadis itu.
"Kau boleh membenciku jika itu membuatmu tenang,” katanya lirih. “Tapi aku tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu lagi, termasuk keluargaku sendiri.” Kata-kata itu membuat d**a Aruna terasa hangat. Ia menatap Rafael perlahan, melihat sorot mata yang tak lagi setajam dulu.
“Kenapa kau begitu peduli padaku sekarang?” tanyanya pelan.
Rafael mendekat beberapa langkah, hingga jarak mereka hanya sejengkal.
"Aku sendiri tidak tahu,” jawabnya jujur. “Mungkin karena setiap kali aku melihatmu, aku merasa… aku masih punya sisi manusia.”
Aruna tercekat. Ia tak pernah mendengar Rafael berbicara selembut itu.
Rafael lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang.
“Kau bisa tidur di sofa, aku akan di kursi dekat jendela,” katanya sambil menatap langit malam.
Namun Aruna melangkah maju, suaranya pelan tapi jelas. “Tidak perlu. Aku tahu kau lelah.”
Rafael menoleh, menatap gadis itu dengan ekspresi heran.
Aruna kemudian menunduk lagi, suaranya bergetar.
“Aku… hanya ingin kau tahu, terima kasih karena sudah menolong Ayahku tadi.”
Rafael menatapnya lama, lalu berjalan mendekat, berhenti tepat di depannya.
Ia menunduk sedikit, mengangkat dagu Aruna agar menatapnya.
“Kau terlalu baik, Aruna. Dunia ini tidak sebaik hatimu.”
“Tapi kalau aku berhenti jadi baik, aku akan jadi seperti ayahku… dan aku tidak mau itu terjadi.”
Rafael terdiam. Ada sesuatu di balik kata-kata itu yang menusuk dalam, mengingatkannya pada masa lalunya sendiri.
Tanpa berkata apa-apa, Rafael menepuk lembut bahu Aruna dan mengarahkannya ke tempat tidur.
"Tidurlah. Aku akan berjaga di sini.”
Aruna memandangnya sejenak, lalu berbaring perlahan. Dalam beberapa menit, matanya mulai terpejam.
Namun Rafael tetap berdiri di dekat jendela, menatap langit malam dengan pandangan kosong.
Ia sadar sesuatu sedang berubah di dalam dirinya, sesuatu yang tak pernah ia izinkan sebelumnya.
“Apa yang kau lakukan padaku, Aruna…” bisiknya pelan.
Senyap memenuhi ruangan, hanya suara napas lembut Aruna yang terdengar… dan di balik ketenangan itu, hati seorang mafia dingin mulai belajar bagaimana rasanya peduli
Angela menatap pemandangan itu dengan rahang mengeras, ia gagal mempermalukan Aruna, dan malah membuat Rafael semakin berpihak pada gadis itu.
“Baiklah, Aruna…” bisik Angela dalam hati, meneguk anggurnya perlahan. “Kau menang malam ini. Tapi ini belum berakhir.”
*****
Matahari pagi menembus tirai tebal kamar mewah itu, menebarkan cahaya lembut ke setiap sudut ruangan. Aruna menggeliat pelan, merasakan sesuatu yang berbeda — kasur empuk, bantal halus, dan aroma khas parfum maskulin yang begitu dekat.
Matanya terbuka perlahan. Begitu ia menyadari tempatnya berada, jantungnya langsung berdetak cepat.
> “Aku… di ranjang Rafael?” bisiknya pelan, nyaris tak percaya.
Ia menatap sekeliling. Kamar itu masih sunyi, hanya terdengar desiran angin dari pendingin udara. Lalu pandangannya jatuh ke arah sisi ruangan — Rafael, tertidur di ranjang kecil di sudut kamar, masih mengenakan kemeja hitamnya yang belum sepenuhnya terlepas.
Aruna terdiam. Dalam diam, ia memperhatikan wajah pria itu. Tanpa tatapan tajam atau nada dingin seperti biasanya, Rafael tampak begitu tenang, bahkan… damai. Garis keras di wajahnya seolah menghilang, digantikan raut lelah yang manusiawi.
Aruna duduk perlahan, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
> “Dia… bahkan memberiku tempat tidur, sementara dia sendiri tidur di sana…” gumamnya.
Ia bangkit pelan dan berjalan mendekat, langkahnya hati-hati agar tidak membangunkan Rafael. Dalam jarak sedekat itu, Aruna bisa melihat bekas luka samar di lengan pria itu — tanda dari kehidupan yang keras, kehidupan yang selama ini hanya bisa ia bayangkan lewat cerita-cerita gelap.
Tanpa sadar, Aruna mengulurkan tangan, hampir menyentuh luka itu. Tapi sebelum jemarinya benar-benar menyentuh kulit Rafael, suara berat itu terdengar,
> “Menatapku seperti itu bisa membuatku sulit tidur lagi, Aruna.”
Aruna terlonjak kaget, buru-buru menarik tangannya dan menunduk.
“A-aku… aku hanya—”
“Hanya apa?” Rafael membuka mata, menatapnya dengan senyum samar. “Khawatir padaku?”
Wajah Aruna memerah. Ia menggeleng cepat.
“Tidak… hanya penasaran.”
Rafael bangkit duduk, lalu mengusap wajahnya.
“Kau harus belajar berbohong lebih baik dari itu,” katanya datar, tapi bibirnya terangkat sedikit.
Aruna menggigit bibirnya, lalu mundur setengah langkah.
“Aku… terima kasih. Karena sudah—”
“Memindahkanmu ke ranjangku?” potong Rafael ringan, menaikkan sebelah alisnya. “Kau tidur seperti anak kecil, kalau kubiarkan di sofa bisa jatuh.”
“T-tapi kau tidur di ranjang kecil itu…”
Rafael menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke jendela.
“Kau butuh istirahat lebih dari aku.”
Hening sejenak. Lalu Aruna tersenyum tipis, lembut dan tulus.
"Terima kasih, Rafael.”
Pria itu menatapnya sekilas, lalu berdiri dan mengambil jasnya.
“Bersiaplah. Kita sarapan di taman belakang. Aku tidak suka menunggu lama.”
Aruna menatap punggung Rafael yang berbalik menuju pintu. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar, bukan lagi ketakutan, tapi perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
"Dia mungkin dingin di luar,” bisik Aruna dalam hati, “tapi hatinya… tak seburuk yang orang kira.”
"Apa kau bilang?"Rafael mengernyitkan.
"Euuhhh tidak ada, tidak ada apa-apa."Aruna menggeleng pelan dan gugup.
"Bolehkah...aku..pergi ke rumah orangtuaku?"
"Tidak... untuk saat ini.. aku belum bisa membiarkanmu pergi kemanapun."
"Kenapa ?"
"Setelah kejadian kemarin, kurasa musuhku tidak akan tinggal diam."Rafael menatap Aruna teduh namun tajam seperti elang.
"Baiklah."Aruna menundukkan kepalanya. "Aku rindu dengan dunia luar, aku rindu pergi ke mall dan menonton film bersama teman-temanku."Batin Aruna.
"Aku harus keluar dari sini."
******
,