Sakha duduk di balik kemudi, matanya menatap jalan namun pikirannya sama sekali tak fokus ke arah depan. Bayangan tentang Siva, tidak seperti yang ia kenal terus berputar di benaknya. Biasanya Nyra tidak pernah meminta bantuan sekecil apa pun, apalagi urusan kerja. Dia selalu punya cara untuk mengatasi semuanya, cepat dan tenang. Tapi kali ini berbeda. Tatapannya tadi ragu, gesturnya gugup, dan bahkan caranya bicara terasa... tidak seperti dirinya. Sakha menggigit bibir bawahnya, satu tangannya menekan pelipis sementara tangan lainnya tetap di setir. “Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Nyra?” gumamnya lirih. “Dia jadi bodoh, ceroboh… bahkan ekspresinya tidak seperti biasanya. Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?” Mobilnya terus melaju, tapi pikirannya semakin kacau. Ingatan tentang

