“Honey, masalah seperti apa yang kamu maksud?” suara Sakha terdengar tenang namun penuh selidik. Ia berdiri di samping meja kerja Siva, mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung, wangi parfumnya langsung memenuhi ruangan kecil itu. Pria itu datang setengah jam setelah telepon tadi, tanpa banyak bicara, langsung menuju kantor Nyra. Siva memutar kursinya perlahan, menatap Sakha dengan wajah lelah dan mata sayu. Tatapannya penuh keraguan, tapi akhirnya ia menyerahkan beberapa berkas dan menunjuk ke layar laptopnya. “Ini,” ucapnya pendek. Sakha menunduk, melihat deretan email yang masuk tanpa henti berupa keluhan, penarikan dana, dan pernyataan penghentian kerja sama. Di sampingnya, ada data para investor yang memutuskan mundur. Ekspresinya berubah dingin. “Berapa banyak yang sudah kel

