Seorang perawat berjalan pelan di sepanjang koridor pagi yang masih lengang, membawa berkas daftar pasien di tangannya. Biasanya, pada jam segini, ruang dokter Ferrin sudah terbuka dan pria itu selalu menyapa dengan senyum hangat sebelum mulai berkeliling memeriksa pasien. Tapi kali ini, saat dia tiba di depan pintu ruangan itu, pintunya masih tertutup rapat dan lampu di dalam belum menyala. Alis perawat itu mengerut heran. Ia mencoba mengetuk pelan. “Dokter Ferrin?” panggilnya, namun tak ada sahutan. Ia menunggu sejenak, lalu mengetuk sekali lagi, tetap hening. “Tumben sekali Dokter Ferrin belum datang... biasanya beliau paling rajin,” gumamnya lirih sambil menatap pintu itu dengan rasa penasaran. Ia sempat berpikir untuk menelpon, tapi akhirnya mengurungkan niatnya. Perawat itu menari

