Deni duduk di tepi ranjang tepat di sebelah kaki Widya yang terjuntai setengahnya ke bawah. Sambil menjawab panggilan dari Evan, tangan Deni tak ia diamkan. Deni memainkan jemarinya di atas p******a Widya secara bergantian. Bukan hanya p******a yang menjadi sasaran tangannya, ia juga meraba selangkangkan Widya yang terasa sudah sangat becek itu. Sebisa mungkin Widya menahan suara desahannya agar tak terdengar oleh anaknya sendiri dari balik telepon. “Oh ini gue juga mau balik kok”, balas Deni. “Yaudah cepetan, beli rokok aja lama banget. Mulut gue udah ga karuan nih pengen rokok rasanya” “iya-iya sabar, 5 menit lagi gue sampe” Panggilan berakhir dan Deni langsung berbalik menindih badan Widya kembali. Mulutnya langsung melumat habis bibir Widya yang terlihat sanggat menggairahkan itu.

