Tak lama setelah melepaskan pelukan Edward, Kania menghapus air matanya yang jatuh tanpa terasa—air mata yang baginya terasa tak pantas untuk disalurkan atas luka yang baru saja mengoyak hati. Edward menatap Kania dengan lembut, suaranya penuh ketulusan, "Kalau kamu masih ingin menangis, menangis saja. Aku di sini, siap menjadi sandaranmu. Kamu juga manusia biasa, Kania. Tidak ada yang melarangmu menangis." Kania menarik napas dalam, mencoba menenangkan badai emosinya. Perlahan ia memastikan air matanya benar-benar kering, menggenggam kekuatan yang mulai tumbuh dalam dadanya. "Aku menangis bukan karena berakhirnya hubunganku dengan Arya." Suaranya bergetar namun penuh keyakinan. "Justru aku lega, bebas dari pengkhianat itu. Sekarang, dia juga tahu apa akibat dari perbuatannya sendiri."