Tiga tahun telah berlalu sejak pengangkatan Damian sebagai pewaris tahta. Kini, di usianya yang menginjak dua puluh dua tahun, Damian bukan lagi bocah yang gemetar saat memegang pedang. Tubuhnya telah terbentuk sempurna, berotot dan tetap lincah, dengan mata yang tajam. Malam itu, Levon memanggil Damian ke ruang kerjanya. "Duduk," perintah Levon tanpa mengalihkan pandangan dari peta besar yang terbentang di atas meja. Peta itu bukan peta biasa, tetapi peta jalur perdagangan gelap, wilayah kekuasaan geng-geng bawah tanah, dan titik-titik merah yang menandai "aset" mereka. Damian duduk, sikapnya tenang dan penuh percaya diri. Ia sudah tidak canggung lagi berada di ruangan ini. "Ada apa, Pa? Untuk apa memanggilku?" Levon akhirnya menatapnya. "Sudah waktunya." "Waktunya untuk apa?" "Wakt

