“Bilang saja kau takut untuk membunuhku,” ucap Ellara dengan senyum getir. “Tidak, kau salah!” sanggah Levon cepat, suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan. Ellara tertawa pelan. Ia melangkah maju, begitu dekat hingga napas mereka saling bercampur, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. “Aku tidak pernah mau anakmu hidup dalam perutku,” katanya dingin, setiap kata ditekan dengan sengaja. “Lebih baik kau bunuh saja aku seperti kau membunuh ayahku.” Pada detik itu juga dunia berhenti. Wajah Levon membeku. Seluruh tubuhnya menegang seolah satu peluru tak kasatmata baru saja menembus dadanya. Tatapan tajam yang selama ini menjadi tamengnya runtuh sekejap, digantikan oleh keterkejutan yang mentah. “Ayahmu …?” ulangnya pelan, hampir tak bersuara. Ellara mundur setengah langkah,

