Bab 17. Ironis

1011 Kata

Hujan turun tipis saat Ellara tiba di rumah itu. Sebuah bangunan kecil yang ada di pinggiran kota. Dindingnya sederhana, catnya sudah kusam, tetapi halaman depannya ditumbuhi tanaman liar yang justru membuatnya terasa hidup. Pohon kamboja tua berdiri di sudut, daunnya basah dengan bunga yang berguguran. Rumah ini jauh dari hiruk-pikuk, jauh dari nama Konstantin, jauh dari darah dan api. Di sana, Ella akan selalu merasa tenang. Ellara menutup pintu perlahan di belakangnya. Suara engsel tua berdecit pelan, seolah menyambut kepulangannya. Udara di dalam rumah terasa dingin dan akrab. Aroma kayu, kertas lama, dan debu yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatannya. "Aku pulang," ucapnya seraya melangkah ke ruang tengah. "Maaf jika aku meninggalkanmu terlalu lama." Di sana, di kaca besa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN