Bab 02

1084 Kata
Kirana menatap pada orang tuanya yang tersenyum manis pada Kirana. Padahal dari semalam Kirana ingin menangis, ketika orang tuanya memaksanya untuk menikah dengan pria yang tidak dikenal oleh dirinya. Tidak tahu siapa. Apakah orang itu baik atau tidak. Padahal dia sudah mengatakan kalau ia memiliki kekasihnya. “Ma, Pa. Kirana memang harus bertemu dengan pria yang dijodohkan dengan Kirana? Kirana sudah punya pacar Ma. Mama dan Papa tahu itu bukan? Kirana cinta sama dia,” ucap Kirana sendu, berharap untuk kesekian kalinya kalau perjodohan ini akan dibatalkan. Tidak akan pernah terjadi, karena orang tuanya memikirkan perasaan Kirana. Namun melihat ibunya malam ini yang sangat heboh sekali menyuruh Kirana menuju restoran tempat dirinya bertemu dengan pria yang disebut calon suaminya. Membuat semua harapan itu pupus. Pernikahan ini tetap akan dilaksanakan. Kirana terpaksa menerimanya. Karena keluarga yang meminang dirinya, adalah keluarga kaya raya dan bekerja sama dengan perusahaan ayahnya. Kalau Kirana menolak—bisa saja membuat usaha yang dibangun oleh kakek nenek Kirana akan menjadi masalah. “Kamu putuskan nanti hubunganmu dengan dia Kirana. Mama dan Papa hanya mau kamu menikah dengan dia. Dia itu lelaki yang baik, percaya sama Mama dan Papa,” ucap Mama Kirana, menatap putrinya dengan senyuman lembut. Kirana dengan lesuh dia mengangguk, lalu berjalan keluar dari dalam rumah membawa langkah kakinya masuk ke dalam mobil dan menuju ke restoran tempat pria itu sudah menunggu dirinya. Kirana berharap kekasihnya tidak akan marah saat dia ingin memutuskan hubungan ini dengannya. Sudah dua puluh menit Kirana masih menatap pada restoran yang ada di depannya. Tidak beranjak dari tempat duduknya, dia masih di sini. Di dalam mobil sambil menarik napasnya kasar. Tidak siap rasanya bertemu dengan pria itu, lalu mengenalkan dirinya pada pria itu. Lalu keduanya akan menikah satu bulan lagi. Ya. Satu bulan. Sungguh keputusan yang tak pernah disetujui oleh Kirana. Keluarganya hanya mengambil persetujuan mereka sendiri. Tidak pernah melibatkan Kirana di dalamnya. Kirana mau menolak juga tidak bisa. “Non, Non nggak masuk ke dalam?” tanya supir yang menatap Kirana dengan senyuman sopannya. Kirana menghela napas kasar, lalu Kirana keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran dengan langkahnya yang terasa sangat berat sekali untuk masuk ke dalam restoran ini. “Saya Kirana Larasati,” ucap Kirana pada pelayan restoran yang mengangguk, lalu membawa Kirana ke salah satu kursi yang sudah dipesan. Di sana. Terdapat seorang pria yang memakai pakaian formalnya dan punggungnya sangat tegap dan—berwibawa? “Malam saya Kirana-” ucap Kirana terhenti ketika dia melihat pria yang ada di depannya, yang akan dijodohkan dengan dirinya. Gila! Pria yang akan dijodohkan dengan dirinya sudah tua begini? Sebaya dengan papanya. Ah! Lebih muda dari Papanya sedikit. “Kamu Kirana Larasati?” tanya lelaki yang ada di depan Kirana, dia juga sama terkejutnya. Melihat wanita yang akan dijodohkan dengan dirinya. Tora Suseno—mengira kalau ibunya akan menjodohkan dirinya dengan wanita berumur tiga puluh lima tahun. Atau hampir seumuran dengan dirinya. Namun, yang dia lihat sekarang. Perempuan yang berdiri di depannya sekarang adalah seorang gadis yang masih sangat muda. “Umurmu berapa?” tanya Tora langsung menanyakan umur. “Dua puluh empat.” Jawab Kirana masih menatap pada pria yang ada di depannya, tidak menyangka kalau orang yang akan dijodohkan dengannya setua ini. Perbedaan yang sangat jauh sekali dan Kirana tidak bisa berkata-kata sekarang. “Kau memang Kirana Larasati?” tanyanya masih tak percaya. “Ya, dan anda Tora Suseno?” tanya Kirana balik, diangguki oleh pria di depannya. Tora duduk di kursi yang ada di depannya. Dia meringis pelan melihat Kirana yang duduk juga di depannya. Ini dia sepantaran dengan putranya. Walau lebih tua dua tahun dari putranya. Tora yakin, kalau Rafan pasti tidak menyetujui pernikahan ini setelah tahu kalau yang menjadi ibu tiri Rafan lebih pantas menjadi kekasih Rafan. “Om, kenapa Om menerima perjodohan ini? Om sudah menikah?” tanya Kirana pada pria yang ada di depannya, dia sungguh penasaran kenapa pria ini menerima pernikahan yang sudah diatur oleh keluarga mereka. Dia yakin juga kalau pria di depannya ini sudah menikah. Tora tersenyum tipis mendengarnya. “Saya minta maaf Kirana. Saya menerima pernikahan ini, karena saya mau menuruti keinginan ibu saya. Dia hanya mau saya dirawat dan dilayani oleh istri yang sehat.” Jawab Tora. “Istri yang sehat?” “Iya, Murni, istri saya. Dia mengidap penyakit kanker stadium akhir. Saya sudah mencoba untuk membawa dia berobat ke sana kemari. Namun tetap saja penyakit itu tidak akan bisa pergi dari tubuh istri saya. Ibu saya hanya mau saya menikah lagi dan mendapatkan pendamping hidup yang bisa merawat saya dengan baik juga melayani saya,” jelas Tora, membuat jantung pria berusia empat puluh empat tahun itu terasa berdebar sekarang. Tora menerima Kirana menolak perjodohan ini. Dia tidak akan memaksa Kirana untuk menerimanya. Namun Tora tak bisa menolaknya, ini adalah pilihan ibunya. Kalau dia menolaknya, maka dia akan menjadi anak yang paling berdosa untuk ibunya. Kirana menghela napasnya kasar. Kenapa harus seperti ini? Dia memiliki pacar. Sekarang hidupnya harus terjebak dengan pria beristri yang akan menjadikan dirinya istri kedua pria itu. Dia hanya sebagai orang yang melayani dan merawat pria itu? Lalu hati? Melihat pria itu yang menyebutkan nama istrinya dengan senyuman lembut dan ada tatapan cinta di sana. Tidak ada yang namanya perasaan di dalam pernikahan ini. “Kamu mau menolaknya? Saya tidak masalah. Tapi saya tidak bisa menolak pernikahan ini. Karena kamu adalah pilihan ibu saya.” Kirana ingin tertawa kencang di depan pria ini sekarang. Menolak perjodohan ini? Kiran? Yang benar saja! Kirana juga tidak bisa menolaknya. Dia akan dimarahi oleh orang tuanya, kalau berani menolak perjodohan yang sudah sangat diharapkan sekali oleh orang tuanya. “Kalau bisa saya akan menolaknya.” Ucap Kirana, membuat Tora mendengarnya terdiam. Dia tahu kalau gadis itu tidak bisa menolak perjodohan ini. “Maaf. Kau harus terjebak denganku. Tapi saya hanya mau membicarakan satu hal denganmu Kirana. Setelah menikah, saya mau kita tinggal bersama dengan Murni dan anak saya.” Ucap Tora, hal itu membuat Kirana kembali terkejut lagi mendengarnya. Tinggal bersama? Dengan istri dan anak pria itu? Maksudnya istri pertama dan kedua harus akur begitu? Atau dia akan merawat istri pertama dari Tora juga? Kirana ingin menangis lagi sekarang. Kenapa nasibnya harus seperti ini. Dia mau menikah dengan kekasihnya. Pria yang sudah menjadi pacarnya selama satu tahun. Namun semuanya harus pupus sudah harapannya. Mau tidak mau. Dia menikah dengan Tora Suseno—pria yang sudah memiliki istri dan anak. Tidak mengenal pria itu dengan baik. Dan nanti akan tinggal di tempat asing yang semakin membuat dirinya tersiksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN