JPU (06)

1305 Kata
Pagi harinya “Enghh..” lenguh Clarissa Clarissa merasa terganggu karena mendengar suara Alarm. Tangannya meraba-raba tempat tidur mencari ponselnya untuk ia matikan. Ia menatap jam yang tertera di layar ponselnya, menunjukkan pukul lima pagi. “Sudah memasuki waktu subuh ternyata.” Lirihnya dengan suara serak khas orang bangun tidur Ketika ingin bangun Clarissa merasakan beban berat di atas perutnya. Ia menatap ke bawah dan ternyata ada sebuah lengan melingkar cantik di atas perutnya. Seketika ia langsung teringat dengan aktivitasnya bersama sang suami tadi malam. Clarissa menoleh ke samping dan seketika hidungnya bersentuhan dengan hidung mancung suminya. “MasyaAllah.. meskipun sedang tidur tidak mengurangi ketampanan suamiku.” ucapnya dalam hati Karena terlalu fokus menatap suaminya membuat Clarissa tidak sadar jika Darren sudah membuka mata. Laki-laki itu tersenyum menyadari tatapan istrinya. Terbesit sebuah ide di kepala Darren untuk menyadarkan istrinya. Fyuhh “Emhh..” seketika Clarissa langsung tersadar ketika merasakan tiupan di wajahnya “Apa saya setampan itu sampai kamu tidak berkedip menatapnya, hm?” ujar Darren sembari tersenyum manis Clarissa tersentak kaget melihat suaminya sudah bangun. “M-mas Darren sudah bangun! Sejak kapan?” “Sebelum kamu menatap saya, saya sudah bangun lebih dulu.” Blush Clarissa langsung merubah posisinya setelah mendengar jawaban Darren. Ia merasa malu karena ketahuan suaminya. “Ya Allah, malu sekali.” Clarissa menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar malu karena ketahuan menatap suaminya. Darren terkekeh geli. Ia semakin mendekat ke arah istrinya lalu memeluk tubuh Clarissa dari belakang. “Eh,” ujar Clarissa “Pasti Mas Darren percaya diri karena tahu aku menatapnya.” ucapnya dalam hati “Kok ditutup selimutnya?” “—“ “Dibuka dong biar saya bisa menatap wajah cantik kamu.” Clarissa tersenyum dibalik selimut. Bisa-bisanya Darren mengeluarkan gombalan di pagi buta. Clarissa membuka selimut yang menutupi dirinya. Ia menoleh sedikit ke belakang menatap wajah suaminya. “Nggak usah gombal. Masih pagi.” “Nggak gombal kok. Saya berkata yang sejujurnya.” “Bulshit!” Cup Clarissa melebarkan matanya karena Darren tiba-tiba mencium ujung bibirnya. “Mas…” “Itu hukuman karena tidak percaya dengan perkataan saya.” “Ck, awas! Clarissa mu mandi.” “Saya juga mau mandi.” “Clarissa dulu baru setelah itu Mas Darren.” “Berdua.” ujar Darren tidak terbantahkan Clarissa mengerjapkan matanya berulang kali mencerna perkataan Darren. Dan setelah tersadaria langsung mendorong suaminya menjauh. Ia semakin mengeratkan selimut untuk menutupi tubuhnya. “Kenapa? Kok terkejut gitu?” ujar Darren “Nggak mau. Kita mandi sendiri-sendiri aja, mas.” “Saya maunya berdua.” “Tapi…” Darren mendekatkan wajahnya membuat Clarissa berhenti bicara. Ia menahan nafas ketika jarak wajah mereka begitu dekat. “Semakin kamu menolak, saya akan semakin memaksa.” Glek Clarissa menelan ludahnya kasar. “T-tapi kita belum sholat subuh, mas.” “Hmm.. terus masalahnya di mana?” “Ya harus cepat-cepat mandinya, mas.” “Justru itu kita harus mandi berdua biar cepat selesainya.” “—“ Clarissa terdiam seribu bahasa. Ia tidak bisa lagi membantah perkataan suaminya. Clarissa takut Darren kembali melakukan hal seperti tadi malam, sedangkan mereka harus segera sholat sebelum waktunya habis. Darren tersenyum smirk melihat istrinya terdiam. Ia tahu Clarissa tidak memiliki jawaban lagi. Perlahan Darren mengulurkan tangannya berniat menarik selimut yang istrinya pegang. “M-mas Darren mau ngapain?” tanya Clarissa dengan wajah gugup “Mandi, yuk! Keburu habis waktu sholatnya kalau kita hanya diam di sini.” “Tapi…” Cup Darren mencium sekilas bibir Clarissa membuat perkataan wanita itu terhenti. “Saya tidak menerima penolakan.” jawabnya tidak terbantahkan Dan tiba-tiba… Srett “MAS DARREN!” pekik Clarissa Dengan tiba-tiba Darren menarik selimut yang dikenakan Clarissa lalu membuangnya ke lantai. Darren justru tersenyum manis melihat pemandangan indah yang membuatnya ingin terus menatapnya. “Hmptt..” Darren membungkam mulut Clarissa dengan tangannya agar tidak berteriak. “Sstt.. Adzan subuh nggak boleh teriak-teriak.” “Lewpasinn!” “Ngeselin!” Clarissa mencoba menutupi tubuhnya dengan kedua tangan namun kalah cepat dengan pergerakan Darren. “Kenapa sih ditutup terus, hm? Lagipula saya sudah melihat semuanya, bahkan merasakan secara langsung.” “Malu!” cicitnya “Nggak perlu malu. Kita mandi sekarang!” Darren menggendong Clarissa ala bridal style membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Clarissa menyembunyikan wajahnya di d**a bidang sang suami karena merasa malu. Kedua tangannya mengalung indah di lehernya. Darren membawa Clarissa masuk ke dalam bath up untuk berendam. Ia memejamkan mata ketika merasakan air yang mengenai tubuhnya. “Hmm..” gumamnya “Mas, kita langsung mandi kan?” ujar Clarissa dengan wajah polos Darren tersenyum smirk. “Memangnya kamu berpikir apa, hm?” “Clarissa…” “Saya mau bermain sedikit.” bisiknya tepat di samping telinga Clarissa “Mas, tapi waktu sudah memasuki Sholat subuh.” “Hmm.. saya tahu. Hanya sebentar!” “Tapi…” “Enghh..” reflek Clarissa melenguh ketika Darren melakukannya dari belakang secara tiba-tiba. Bahkan ia belum siap menerimanya. “Sshh.. sakit, mas!” “Sstt.. rasa sakitnya hanya sebentar. Setelah ini rasa sakit itu akan tergantikan.” Kedua tangan Clarissa mencengkram kuat tangan Darren yang melingkar di pinggangnya. Ia mendongak menikmati apa yang dilakukan suaminya. Clarissa tidak bisa memberontak karena pelukan Darren cukup kuat. “Mashh..” “Sstt.. jangan berisik, sayang!” ujar Darren sembari memejamkan mata Ketika tubuhnya terkena air membuat pikiran Darren melayang. Tanpa berpikir panjang ia kembali melakukannya bersama Clarissa. Ia ingin melakukannya lagi dan lagi. “Emhh.. mashh..” suara Clarissa terdengar meracau “Saya sudah tidak sabar ingin memiliki momongan, Clarissa. Sebisa mungkin saya akan membuat sosok malaikat kecil tumbuh di rahim kamu.” “A-apa Mas Darren begitu menginginkannya?” tanya Clarissa dengan nafas tidak beraturan “Saya sangat menginginkannya. Bahkan kalau bisa bayi kembar yang lucu-lucu.” “Enghh.. pelanhh, mas!” Darren semakin mempercepat ritmenya membuat Clarissa kewalahan. Tubuhnya terhentak berulang kali, namun dirinya tidak bisa berbohong ia sangat menikmatinya. Suara indah miliknya memenuhi ruang kamar mandi, hal itu membuat Darren semakin bersemangat. Kedua tangan Darren tidak tinggal diam. Di dalam air tangannya bergerak tidak tentu arah, hal itu menambah sensasi luar biasa. Sensasi yang belum pernah keduanya rasakan. “Mashh, Clarissa…” “Sedikit lagi, sayang!” Darren semakin kuat memainkan dua benda kenyal milik Clarissa. Tidak ada perlawanan sedikitpun dari Clarissa, yang ada hanya suara racauan mengalun indah di telinga Darren. “Sshh..” “Sakit, mas! Pelan-pelan!” ujar Clarissa sembari menahan kedua tangan Darren “Tidak bisa, Clarissa. Saya sudah tidak bisa menahannya.” “Engghh..” Dan… “Aarrgghh..” Darren dan Clarissa melenguh panjang secara bersamaan setelah sampai pada kenikmatan dunia. Nafas keduanya terengah. Tubuh Clarissa seketika lemas setelah cairan cinta Darren tertanam sempurna di rahimnya. Perutnya terasa hangat membuat wanita itu tersenyum. Clarissa yakin keinginan suaminya akan segera terwujud. Clarissa mendongak menatap wajah tampan suaminya. “Mass.. sepertinya keinginan Mas Darren untuk segera memiliki momongan akan segera terwujud.” “Cairan cinta kita berdua telah tertanam sempurna.” lanjutnya Cup Darren mencium sekilas bibir istrinya. Ia tersenyum manis dengan tatapan sayu. Darren mengelus pipi istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Padahal mereka belum saling mencintai tapi getaran itu selalu muncul di hati keduanya. “Saya memiliki bibit unggul yang pastinya akan langsung jadi.” “Saya yakin setelah ini kamu akan hamil, Clarissa.” ujar Darren Darren yakin semua hal yang didasari usaha dan doa akan berhasil. Ia ingin segera memiliki momongan agar rumahnya ramai akan tangisan bayi. Membayangkan hal tersebut sudah membuatnya bahagia, apalagi keinginannya benar terwujud. “Ya Allah, Engkau pasti mengabulkan doa hamba.” Doa Darren dalam hati "Yaudah, kita mandi sekarang!" ujar Darren pada istrinya Clarissa mengangguk. Ia tidak banyak membantah karena tenaganya sudah habis. Ia berharap waktu subuh masih panjang agar tidak tergesa-gesa untuk melaksanakannya. Clarissa dan Darren membersihkan tubuhnya setelah mencari kenikmatn dunia. Doa terus mengalir dari keduanya agar segera memiliki keturunan. Next>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN