Langkah Daniella nampak ragu pada awalnya sampai ia berhenti di depan salah satu pintu hotel yang ada di sini. Lima menit yang terasa sangat lambat bagi Daniella. Ia sudah berdiri di depan pintu kamar 704 sedari tadi, tangannya yang gemetar memegang kartu kunci. Jantungnya berpacu, bukan hanya karena ketakutan, tetapi karena isi kepala yang sudah mulai berpikir liar. Dengan satu sentuhan kartu, pintu terbuka dengan suara 'klik' pelan.
Kamar itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu meja di sudut ruangan. Aroma sandalwood dan wine yang tadi ia cium di bar kini terasa lebih pekat, memenuhi hampir seisi dari ruangan tersebut. Liam berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan kota di malam hari, kemeja hitamnya bahkan sudah setengah terbuka, menampakkan d**a bidangnya yang tegap.
Saat Daniella melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya, Liam berbalik. Tatapannya tidak lagi dingin. Ada api yang menyala di sana, api yang belum pernah Daniella lihat dari suaminya sendiri. Terlihat sangat menggebu dan yang Daniella tangkap sedang menginginkan sesuatu yang lebih jauh.
"Akhirnya kamu datang juga, Sayang." suara Liam rendah, bergetar dengan intensitas yang tertahan.
"Ayo, duduklah dulu. Aku tidak akan menggigit," perintah Liam namun Daniella tetap saja berdiri di depan pintu. Dia ragu, tapi bukan berarti takut. Dia hanya sedang merasakan gejolak batin yang kuat antara mengatakan hal ini salah tapi juga ingin sekali menutup mulut orang-orang yang hanya bisa menyalahkannya saja. Ia gamang namun bukan berarti dia tidak berani, hanya saja ia sedang meyakinkan diri, untuk tetap melangkah maju dan meneruskan kegilaannya atau malah kembali mundur dan siap mendapatkan banyak cecaran setiap harinya dari sang mertua. Apa lagi ia memiliki suami yang sama sekali tidak peduli terhadapnya dan masih juga memikirkan wanita lain, sampai-sampai enggan untuk menyentuhnya.
Daniella tidak berkata apa-apa. Ia merasa seperti mangsa yang mendekati pemangsa, namun ia tidak ingin lari. Perjanjian gelap yang mereka buat di bar tadi, kini digantikan oleh ketegangan intim yang cukup menyesakkan untuk Daniella.
Liam melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa berat dan penuh kepastian. Ia berhenti tepat di depan Daniella, jarak mereka begitu dekat hingga Daniella bisa merasakan kehangatan dari tubuh pria itu. Tangannya yang besar terangkat, dengan lembut menangkup rahang Daniella, ibu jarinya mengusap bibir bawahnya yang gemetar.
"Apakah kamu sudah benar-benar yakin, Daniella?" tanyanya, memberikan satu kesempatan terakhir untuk mundur sebelum semuanya terlanjur terjadi. Ia harus pastikan, bila tidak ada paksaan dan mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. "Karena mungkin setelah ini, tidak akan pernah ada jalan untuk kembali." Penegasan yang Daniella terima dan harus ia putuskan detik itu juga.
Apakah harus ia lanjutkan sebuah hal yang bila dipikir-pikir adalah salah? Tapi saat dibayang-bayangi sikap suaminya maupun desakan dari mertuanya, membuat Daniella tak tahan dan membuat Daniella ingin segera membungkam mulut mereka.
Daniella menatap mata paman suaminya, mencari keraguan, namun ia hanya menemukan gairah dan tekad yang sama kuat dengan miliknya juga. "Aku yakin," bisik Daniella, dari suaranya hampir tidak terdengar namun penuh keyakinan.
Jawaban Daniella menghancurkan sisa-sisa pertahanan diri Liam. Ia menundukkan kepalanya, lebih mendekatkan diri lagi lantas menciumi leher Daniella dengan gairah yang sudah lama terpendam. Ciuman itu kasar, menuntut, dan penuh rasa lapar serta sangat-sangat berbeda dengan ciuman formal dan dingin dari suaminya, Aslan.
Daniella terkesiap, terkejut dengan intensitas ciuman itu, namun dengan cepat ia membalasnya. Ia merindukan sentuhan ini, kerinduan yang selama ini ia tekan. Tangannya naik, meremas bahu kokoh Liam, menariknya lebih dekat.
Liam mengangkat tubuh Daniella dengan mudah, membawanya menuju tempat tidur besar di tengah ruangan. Gaun hitam tipis Daniella jatuh ke lantai dengan mudah. Di bawah selimut sutra, mereka bukan lagi paman dan keponakan ipar. Mereka adalah dua jiwa yang kesepian, mencari kehangatan dan pemenuhan dalam pelukan satu sama lain.
Setiap sentuhan Liam terasa seperti sengatan. Ia menjelajahi tubuh Daniella dengan teliti, memberikan kesenangan yang belum pernah Daniella bayangkan sebelumnya. Rasa bersalah perlahan memudar, digantikan oleh kesadaran yang membahagiakan bahwa ia diinginkan, bahwa ia berharga sebagai seorang wanita.
Malam itu, di kamar 704, mereka melanggar janji pernikahan mereka masing-masing. Namun mereka juga menemukan pembebasan dari penjara emosional yang selama ini mengurung mereka. Mereka tahu dengan jelas, bahwa pagi hari akan membawa konsekuensi yang berat, namun untuk saat ini, mereka memilih untuk tenggelam dalam api gairah yang terlarang, yang pelan-pelan membakar dan menghasilkan peluh yang saling bercampur diantara permukaan kulit keduanya.