Bulan merutuki dirinya yang begitu bodoh sekali. Sudah pasti wajahnya kini memerah karena malu bukan main setelah Ikhsan menjawab ucapannya itu. Bulan melirik ke bawah lagi ke arah bajunya yang sudah terkancing rapat. Setelah meletakkan minuman hangat di meja makan. Bulan duduk di kursi sambil memegang minuman hangat miliknya. Satu tarikan napas yang sangat dalam masuk ke dalam rongga parunya untuk mengontrol detak jantungnay yang kian berdebar keras. Tak hanya itu Bulan masih merasa malu jika harus bertemu dengan Ikhsan. "Bulan ..." panggil Ikhsan dari dalam kamar. Ikhsan menatap pakaian yang sudah di sipakna Bulan dan langsung memakainya tanpa memilih lagi. Bagi IKhsan pilihan istrinya adalah keberuntungan untuk dirinya. Pilihan istrinya adalah doa terbaik untuk aktivitasnya hari ini.

