Bab 12

1317 Kata
Di dalam taksi online yang melaju pelan menembus jalan malam Jakarta, Sinta duduk di kursi belakang dengan tubuh yang masih gemetar. Lampu-lampu jalan memantul samar di kaca jendela. Kota masih hidup, mobil lalu-lalang, beberapa orang tertawa di trotoar—seolah dunia tetap berjalan normal. Namun bagi Sinta, malam itu terasa berbeda. Tangannya perlahan menyentuh lengannya sendiri. Cengkraman Niko tadi masih terasa jelas, seperti bayangan yang belum benar-benar hilang dari kulitnya. Ia tahu, beberapa jam lagi warna kebiruan akan muncul di sana. Punggungnya juga terasa nyeri setiap kali ia bersandar. Benturan dengan lemari tadi meninggalkan rasa ngilu yang menjalar sampai ke tulang. Namun anehnya, semua itu tidak terasa seberapa. Ada bagian lain yang jauh lebih sakit. Hatinya. Sinta memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan napasnya yang masih tidak stabil. Bayangan kejadian di apartemen Niko tadi kembali muncul tanpa diminta—tatapan marah, tangan yang mencengkeram, tubuhnya yang didorong. Dan yang paling membuatnya gemetar adalah saat Niko mendekat terlalu dekat. Terlalu memaksa. Seolah tubuhnya bukan lagi miliknya. Sinta menelan ludah, menahan rasa mual yang tiba-tiba muncul. Ia bukan wanita lemah. Ia sudah menghadapi banyak tekanan dalam hidup—tuntutan ayahnya, dunia bisnis yang keras, kehilangan Rama yang begitu menyakitkan. Namun malam ini berbeda. Karena seseorang yang seharusnya menjadi tempat aman justru menjadi sumber ketakutan. Matanya mulai terasa panas. Namun seperti biasa, air mata itu tidak benar-benar jatuh. Sudah lama sekali Sinta tidak menangis. Seolah hatinya sudah terlalu lelah untuk melakukannya. Mobil berhenti di lampu merah. Sinta menatap pantulan wajahnya di kaca jendela yang gelap. Wanita yang terlihat sempurna di depan orang-orang—wakil pimpinan perusahaan, anak kebanggaan Damar, calon istri dari pria yang dianggap “sempurna”. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa malam ini ia pulang dengan tubuh yang sakit dan hati yang retak. Ia memeluk dirinya sendiri pelan, mencoba menghangatkan tubuhnya yang dingin. Dalam hati, sebuah pertanyaan muncul dengan sunyi. Jika ini adalah kehidupan yang harus ia jalani… berapa lama lagi ia bisa bertahan? Ini bukan pertama kalinya. Sinta tahu itu dengan sangat jelas. Bukan pertama kalinya Niko membentaknya. Bukan pertama kalinya tangannya ditarik terlalu keras. Bukan juga pertama kalinya Sinta pulang dengan tubuh gemetar seperti ini. Dan justru karena itu, ia selalu waspada setiap kali bersama lelaki itu. Seolah ada alarm tak terlihat di dalam dirinya. Alarm yang selalu menyala setiap kali nada suara Niko berubah sedikit lebih tinggi, setiap kali tatapan lelaki itu mulai mengeras, setiap kali ia berdiri terlalu dekat. Sinta belajar membaca tanda-tanda itu dengan cepat. Belajar diam sebelum perdebatan membesar. Belajar mengalah sebelum emosi meledak. Belajar menenangkan seseorang yang seharusnya tidak perlu ia tenangkan. Namun malam ini tetap terjadi. Ponselnya di pangkuan tiba-tiba bergetar. Satu kali, lalu sekali lagi. Nama Niko muncul di layar, sinta menatapnya lama. Dering itu berhenti, lalu kembali lagi beberapa detik kemudian. Ia tahu pola ini, ada dua kemungkinan. Niko akan meminta maaf, nada suaranya akan melembut, penuh penyesalan. Ia akan mengatakan bahwa ia khilaf, bahwa ia terlalu emosional, bahwa ia hanya takut kehilangan Sinta. Permintaan maaf yang terdengar tulus, namun selalu terasa kosong karena Sinta tahu siklus itu akan terulang lagi. Atau kemungkinan kedua, Niko masih marah. Masih ingin menyelesaikan emosinya. Masih ingin memaksanya mendengar pembelaannya. Dan Sinta tidak tahu mana yang lebih melelahkan. Ponsel itu kembali berdering di tangannya. Kali ini lebih lama. Jari Sinta bergerak sedikit di atas layar, namun tidak menekan apa pun. Ia hanya menatap nama itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan, takut, lelah dan entah sejak kapan juga sedikit muak. Taksi akhirnya berhenti di depan rumahnya. Sinta membayar, lalu turun dengan langkah pelan. Udara malam terasa dingin menyentuh kulitnya yang masih bergetar. Ponselnya kembali menyala, nama Niko masih di sana terus memanggil. Namun untuk pertama kalinya sejak hubungan itu dimulai, Sinta tidak merasa bersalah karena tidak mengangkatnya. Ia hanya mematikan layar ponselnya. Dan berjalan masuk ke rumah dengan satu kesadaran yang mulai tumbuh pelan di dalam dirinya, jika seseorang membuatmu terus merasa takut, mungkin masalahnya bukan pada seberapa besar kamu mencintainya. Tapi pada seberapa besar kamu berani meninggalkannya. “Sayang sudah pulang?” Suara Mila terdengar lembut dari ruang keluarga ketika melihat Sinta masuk. Lampu masih menyala redup, televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Sinta menghela napas pelan sebelum melangkah lebih dekat. Ia merapikan rambutnya sedikit, menormalkan ekspresi wajahnya seperti yang selalu ia lakukan. “Sudah, Ma.” “Rafandra sudah tidur?” Sinta bertanya lebih sebagai basa-basi daripada benar-benar ingin tahu. Ia sudah sangat hafal kebiasaan adiknya itu. “Sudah. Tidur bareng Ayah,” jawab Mila sambil tersenyum kecil. Sinta mengangguk pelan. “Kenapa sudah pulang? Acara malam minggunya kurang seru?” tanya Mila lagi dengan nada santai. Sinta terkekeh ringan, senyum yang tampak wajar di wajahnya. “Hanya makan malam saja, Ma. Niko capek katanya.” Bohong. Kalimat itu keluar begitu saja, mulus seperti sudah dilatih berkali-kali. Mila hanya mengangguk. Tidak curiga sedikit pun. Sinta menunduk sebentar, lalu berkata pelan, “Aku juga capek, Ma. Mau tidur dulu.” “Iya, istirahat sana.” Sinta berbalik menuju kamarnya. Langkahnya pelan menyusuri lorong rumah yang sudah sangat ia kenal sejak kecil. Begitu pintu kamar tertutup, senyum tipis di wajahnya perlahan hilang. Tubuhnya terasa berat seolah semua tenaga habis dipakai untuk berpura-pura baik-baik saja. Ia berjalan ke depan cermin. Lampu kamar yang terang membuat semua terlihat jelas. Sinta menurunkan lengan bajunya perlahan. Bekas cengkraman itu mulai terlihat. Kulitnya memerah, beberapa bagian sudah berubah menjadi biru keunguan. Sinta menatapnya lama tanpa ekspresi. Tangannya bergerak menyentuh punggungnya sendiri, mencoba meraba bagian yang terbentur tadi. Rasa nyeri langsung menjalar membuatnya meringis tipis. Namun seperti tadi di dalam taksi, rasa sakit itu tidak seberapa. Yang jauh lebih menyakitkan adalah kesadaran yang datang perlahan. Hubungan ini tidak sehat dan ia sudah terlalu lama berpura-pura tidak melihatnya. Sinta duduk di tepi tempat tidur, menunduk. Ponselnya masih ada di dalam tas. Ia tahu di sana pasti masih ada banyak panggilan dari Niko, namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia tidak ingin mendengarnya. Tidak ingin mendengar permintaan maaf, tidak ingin mendengar alasan. Ia hanya ingin diam, di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, Sinta duduk lama di tepi tempat tidurnya. Kamar itu luas, rapi, hangat, namun malam itu terasa sangat dingin. Tangannya saling menggenggam, mencoba menahan tubuhnya yang menggigil. Entah karena udara malam atau karena rasa takut yang masih tersisa di dadanya. Ia ingin bercerita. Ingin mengatakan bahwa ia lelah. Bahwa ia takut. Bahwa hidup yang terlihat sempurna dari luar itu sebenarnya terasa sangat berat untuk dijalani. Namun pada siapa? Pada Mila? Ibunya pasti akan panik. Pada Damar? Ayahnya mungkin justru marah besar dan memperkeruh semuanya. Pada teman-temannya? Sinta bahkan tidak yakin masih punya tempat untuk benar-benar terbuka. Selama ini ia selalu menjadi orang yang kuat. Orang yang diandalkan. Orang yang terlihat baik-baik saja. Dan orang seperti itu biasanya tidak diberi ruang untuk runtuh. Sinta memejamkan mata. Dadanya terasa sesak. Ia ingin sekali menangis, namun air mata itu tetap saja tidak keluar. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang menahan semuanya. Tangannya meraih ponsel di atas meja. Layarnya menyala. Beberapa panggilan tak terjawab dari Niko. Beberapa pesan masuk yang bahkan tidak ingin ia baca. Sinta mengabaikannya. Ia membuka galeri. Menatap beberapa foto yang tersimpan di sana—foto dirinya bersama Rafa, foto kegiatan kantor, foto-foto kehidupan yang terlihat normal. Lalu ia memilih satu gambar, bukan foto dirinya hanya sebuah gambar sederhana, langit malam yang gelap dengan satu lampu jalan yang menyala sendirian. Sunyi. Sepi. Sinta menatapnya beberapa detik. Kemudian ia mengunggahnya ke media sosial. Tanpa banyak kata. Hanya satu kalimat singkat. “Just me” Kalimat yang sangat sederhana. Bagi sebagian orang mungkin tidak berarti apa-apa, namun bagi Sinta, itu adalah isyarat. Isyarat kecil bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Bahwa di balik semua kesempurnaan hidupnya, ada seseorang yang sedang hampir runtuh. Ia tidak tahu siapa yang akan melihatnya. Tidak tahu siapa yang akan mengerti, namun untuk pertama kalinya, Sinta berharap ada seseorang di luar sana yang cukup mengenalnya untuk membaca kesedihan di balik satu kata itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN