Bab 9. Mati rasa

1101 Kata
“Niko juga mau datang ke sini katanya… dia lagi di jalan,” ucap Mila lembut. Tangan Sinta yang sedang menyuapi Rafa terhenti sepersekian detik. Ia menoleh, bukan dengan wajah terkejut—melainkan dengan tatapan heran yang cepat ia sembunyikan. “Oh…” jawabnya singkat. Beberapa waktu lalu Niko mengatakan ia sedang berada di lokasi proyek yang cukup jauh dari pusat kota. Perjalanan daratnya saja bisa memakan waktu berjam-jam. Sinta bukan tidak tahu bagaimana Niko bekerja. Jika ia bilang di proyek, biasanya ia benar-benar sibuk. Jadi kedatangannya hari ini terasa… ganjil. Mungkin hanya formalitas. Mungkin ingin terlihat menghargai Papa dan Mama sebagai calon mertua. Mungkin ingin menunjukkan diri sebagai tunangan yang bertanggung jawab. Sinta kembali fokus pada Rafa yang sibuk membuka mulut minta suapan berikutnya, tapi pikirannya sudah tidak sepenuhnya di sana. Tak lama kemudian, pintu masuk restoran terbuka. Dari kejauhan, ia melihat sosok Niko melangkah masuk. Wajahnya tidak lagi babak belur seperti minggu lalu. Luka jahitan sudah kering. Namun jika diperhatikan saksama, lebam samar masih terlihat di sudut rahang dan dekat pelipisnya. Sisa-sisa perkelahian yang belum sepenuhnya hilang. Niko tersenyum ketika melihat meja mereka. Senyum yang dibuat percaya diri, seolah tak pernah ada kejadian memalukan sebelumnya. Damar berdiri menyambutnya dengan ramah. Mila tersenyum sopan. Rafa menatap penasaran. Sinta tetap duduk. Punggungnya tegak. Wajahnya tenang. Saat Niko mendekat dan kursi ditarik, barulah Sinta mengangkat pandangan. Mata mereka bertemu beberapa detik. “Proyeknya jauh, kan?” tanya Sinta datar, cukup pelan agar hanya Niko yang mendengar. Niko tersenyum tipis. “Iya. Aku sempatkan.” Jawaban singkat. Terlalu singkat. Sinta mengangguk kecil. Tidak memuji. Tidak juga mempertanyakan lebih jauh. Di dalam dirinya, bukan rasa terharu yang muncul—melainkan perhitungan. Ia tahu Niko tipe lelaki yang menjaga citra di depan orang tua. Kedatangannya hari ini mungkin bentuk usaha. Atau mungkin sekadar strategi. Namun satu hal yang tidak berubah—Sinta tetap tidak merasakan apa pun. Tidak bangga. Tidak senang. Tidak pula kecewa. Ia hanya menyuapi Rafa lagi, lalu menegakkan punggungnya sedikit lebih tegap. Sementara itu, di sudut ruangan, beberapa karyawan yang mengenali wakil pemimpin mereka berbisik pelan. Princess ice terlihat sama seperti biasa—anggun, terkendali, tak terbaca. Tak ada yang tahu bahwa di balik ketenangan itu, Sinta sedang mengamati dengan sangat hati-hati. Karena kali ini, ia tidak ingin lagi menjadi perempuan yang pura-pura tidak melihat tanda-tanda. Tawa Damar terdengar lepas siang itu. Ia tampak menikmati obrolannya dengan Niko—membahas bisnis, proyek, relasi. Mila pun beberapa kali tersenyum puas melihat calon menantunya terlihat sopan dan komunikatif. Di meja itu, hanya Sinta yang terasa seperti penonton. Ia tetap tersenyum, mengangguk seperlunya, menimpali jika ditanya. Senyum yang rapi. Terkontrol. Sebuah tameng yang sudah terlalu lama ia kuasai. Rafa sibuk dengan mainan kecilnya, membuat dunia kecilnya sendiri di atas meja. Beberapa menit kemudian, Sinta berdiri. “Permisi,” ucapnya halus. “Ke kamar mandi sebentar.” Di dalam restroom yang sepi, ia berdiri di depan cermin besar. Wajahnya terlihat lelah. Concealer tidak sepenuhnya mampu menyembunyikan lingkar tipis di bawah matanya. Ia menyentuh pipinya pelan, menarik napas panjang. Sampai pintu di belakangnya kembali terbuka. Refleks, mata Sinta terangkat ke cermin. Niko. Lelaki itu berdiri beberapa langkah di belakangnya, tersenyum tipis. Tanpa banyak kata, ia mendekat dan tangannya terangkat, menegang pinggang Sinta dari belakang. Sentuhan itu membuat bahu Sinta sedikit menegang, tapi ia tidak bergerak menjauh. Mata mereka bertemu lewat pantulan cermin. “Proyek jauh… atau ada proyek lain yang sedang kamu kerjakan dengan seseorang?” tanya Sinta tenang. Nada suaranya rendah, hampir terdengar seperti bisikan santai. Niko tersenyum miring. “Kamu mulai interogasi sekarang?” Sinta mengangkat satu alis tipis. “Berkasnya ada lagi tuh di leher.” Tatapannya turun sekilas ke bercak samar yang tak sepenuhnya tertutup kerah kemeja. Senyum Niko sedikit memudar. Tangannya yang di pinggang Sinta belum juga lepas. “Kamu cemburu?” tanyanya, setengah menantang. Sinta tertawa kecil. Bukan tawa manja. Bukan tawa kesal. Hanya hembusan tipis yang nyaris tak bernada. “Aku?” Ia menatapnya lurus lewat cermin. “Untuk apa?” Kalimat itu terasa lebih tajam dari tuduhan apa pun. Beberapa detik mereka terdiam. Ketegangan tipis menggantung di udara. Niko akhirnya menurunkan tangannya perlahan. “Itu cuma salah paham.” “Selalu,” jawab Sinta ringan. Ia merapikan blazer-nya, lalu berbalik menghadap Niko langsung. Tatapannya dingin namun tidak meledak. “Aku cuma nggak suka dibohongi. Itu saja.” Tanpa menunggu jawaban, Sinta melangkah keluar lebih dulu. Punggungnya tetap tegak. Langkahnya stabil. Di balik ketenangan itu, bukan cemburu yang menggerogoti hatinya. Melainkan satu kesadaran yang semakin jelas— ia tidak lagi mencintai lelaki di hadapannya. Dan mungkin… tidak pernah benar-benar mencintainya sejak awal. Sinta kembali ke meja dengan wajah setenang sebelumnya. Tidak ada jejak percakapan di restroom tadi. Tidak ada emosi yang tersisa di permukaan. Niko menyusul beberapa detik kemudian, ekspresinya sudah kembali santai, seolah tak terjadi apa-apa. Ia duduk di samping Damar dan kembali terlibat dalam pembicaraan tentang proyek dan peluang investasi. Damar tampak puas. Mila terlihat lega. Sinta duduk di kursinya, menyilangkan kaki dengan anggun. Tangannya terlipat rapi di atas meja. Ia sesekali tersenyum jika pembicaraan mengarah padanya. Profesional. Terkendali. Namun di dalam dirinya, sesuatu telah bergeser. Tadi di depan cermin, saat Niko bertanya apakah ia cemburu, Sinta menyadari satu hal penting—ia benar-benar tidak merasakan apa-apa. Tidak ada panas di d**a. Tidak ada perih. Tidak ada rasa memiliki. Hanya logika. Dan logika berkata hubungan ini dibangun lebih karena kesepakatan, kenyamanan keluarga, dan ekspektasi sosial—bukan karena cinta. Rafa tiba-tiba menyentuh lengannya. “Kak, nanti pulang bareng aku ya?” Sinta menoleh, senyumnya kali ini lebih tulus. “Iya.” Niko meliriknya sekilas. Ada sesuatu dalam sorot mata Sinta yang berbeda. Bukan dingin seperti biasanya. Lebih… jauh. Makan siang itu akhirnya selesai dengan suasana hangat dari sisi orang tua. Mereka berdiri, bersalaman, berjanji akan bertemu lagi. Niko bahkan mencium tangan Mila dengan sopan. Saat hendak berpisah, Niko mendekat sedikit pada Sinta. “Kita ngobrol nanti malam,” ucapnya pelan. Sinta menatapnya beberapa detik. “Kalau sempat.” Jawaban yang datar, tapi jelas tidak lagi menggantungkan diri. Mobil Damar perlahan meninggalkan gedung. Sinta berdiri sebentar di trotoar bersama Niko sebelum akhirnya melangkah kembali ke lobi kantor. “Kamu berubah, Sin,” kata Niko tiba-tiba. Sinta berhenti. Menoleh perlahan. “Semua orang berubah,” jawabnya tenang. Lalu ia berjalan masuk tanpa menunggu respon. Di dalam lift yang bergerak naik menuju lantai kantornya, Sinta menatap bayangannya sendiri di dinding kaca. Ia tidak merasa marah. Tidak merasa cemburu. Namun untuk pertama kalinya, ia merasa… sadar. Sadar bahwa ia mungkin sedang berjalan menuju pernikahan yang tidak lagi ia yakini. Dan kesadaran itu, jauh lebih menakutkan daripada lebam di wajah Niko mana pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN