Bab 3. Bertemu keluarga

1026 Kata
Sinta menatap Rama dan Livi yang kini berdiri tepat di depannya. Rama menggandeng Livi dengan lembut, langkah mereka mantap tapi tenang. Hatinya bergetar, antara senang melihatnya hadir dan tersayat oleh kenyataan yang ada. Rama tersenyum, mengulurkan tangan ke arah Sinta. Suaranya lembut tapi hangat, seolah berusaha menenangkan suasana. “Sinta, selamat ya.. aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang. Ini istriku, Livi.” Livi tersenyum manis, menjulurkan tangan dengan sopan. “Senang akhirnya bisa bertemu, Sinta. Aku banyak dengar tentangmu.” Sinta membalas jabat tangan itu, namun hatinya tetap berguncang. Senyum Livi terasa tulus, tapi sekaligus seperti menabur garam di atas luka lama. “Sinta,” Balesnya dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar tenggelam dalam alunan musik. “Terimakasih sudah datang, aku senang sekali kalian bisa hadir di acara spesialku.” Kata-kata itu manis, tapi juga menyakitkan. Livi tersenyum ramah, “Semoga kita bisa baik-baik saja, Sinta. Aku ingin hubungan kita harmonis, untuk semua pihak.” Sinta menatap mereka berdua, hatinya campur aduk. Senyum yang ia pakai kini terasa seperti topeng tipis yang menutupi rasa rindu dan kehilangan. Kata-kata begitu manis, tapi setiap pujian seolah menyayat hatinya pelan-pelan. “Kami cantik sekali,” puji Rama, menatap Sinta dengan seksama. “Terimakasih, Kak. Kak Livi juga cantik, jauh lebih cantik dari yang kulihat di foto.” Di balik semua kesopanan itu, Sinta sadar satu hal, dunia mereka telah berubah, dan posisi Rama kini bukan lagi untuknya. Rama menarik napas dalam sebelum melangkah mendekati Damar dan Mila. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia memberanikan diri menyapa dua orang yang telah membesarkannya, orang tua angkat yang memberinya rumah, pendidikan, dan masa depan ketika ia dan Sinta tak memiliki siapa pun. Sebagai dua anak yatim piatu yang diasuh keluarga Damar, seharusnya Rama menunjukkan sikap balas budi, menuruti keinginan Damar, dan melanjutkan tongkat estafet bisnis keluarga. Seperti yang dilakukan Sinta, yang rela mengorbankan perasaannya demi memenuhi tanggung jawab dan harapan. Namun Rama selalu memilih jalan yang berbeda. Ia menolak perintah Damar untuk menjadi ahli waris. Ia menolak dunia bisnis yang gemerlap. Rama memilih menjadi dokter, menjadi dirinya sendiri, seperti yang sudah dicita-citakan sejak kecil. Langkahnya terhenti tepat di depan Damar dan Mila. Mila lebih dulu menoleh, wajahnya seketika melunak saat melihat Rama. “Rama…” ucap Mila lirih, matanya berkaca-kaca. Rama tersenyum kecil. “Ma…” Damar berdiri kaku di samping istrinya. Tatapannya tajam, penuh wibawa, namun di balik itu tersimpan kekecewaan lama yang belum sepenuhnya sembuh. “Akhirnya kamu datang juga,” ujar Damar datar. “Iya, Pa. Maaf… aku baru bisa datang sekarang,” jawab Rama tenang. Mila menggenggam tangan Rama, menatap wajah putra angkatnya itu dengan rindu yang lama terpendam. “Kamu kelihatan sehat. Istrimu cantik sekali,” katanya, melirik Livi dengan senyum hangat. Juga tentang perjodohan, seharusnya Rama pun bernasib sama seperti Sinta namun lagi-lagi Rama menolaknya. Bukan karena Rama mencintai Livi, tapi justru karena Rama mending Sinta. Cinta terlarang yang ditentang keras oleh Damar. “Terima kasih, Ma,” balas Rama pelan. Namun tatapan Damar tak seramah itu. “Kamu tetap dengan pilihanmu, ya? Jadi dokter, hidup sederhana, jauh dari keluarga yang membesarkanmu.” Rama mengangguk mantap. “Iya, Pa. Itu jalan hidup yang aku pilih.” Damar menghela napas berat. “Kamu tahu, kalau kamu mau, semua ini bisa jadi milikmu. Perusahaan, jaringan, masa depan yang terjamin.” Rama menatap Damar dengan tenang. “Aku tahu. Dan aku berterima kasih untuk semua yang Papa dan Mama berikan. Tapi aku ingin berguna dengan caraku sendiri. Aku ingin menyembuhkan orang, bukan menguasai pasar.” Kalimat itu membuat suasana di sekitar mereka sejenak hening. Mila memegang lengan Damar pelan, seolah meminta suaminya menahan diri. “Yang penting Rama bahagia, Pa.” Damar terdiam. Rahangnya mengeras, namun akhirnya ia mengangguk tipis. “Kamu memang selalu keras kepala. Dari dulu.” Rama tersenyum kecil. “Mungkin karena Papa yang membesarkanku.” Untuk sesaat, ketegangan itu mencair. Namun di antara mereka tetap ada jarak—jarak yang tercipta dari pilihan hidup, prinsip, dan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Di kejauhan, Sinta memperhatikan adegan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu betul betapa sulitnya Rama berdiri di antara rasa terima kasih dan keinginannya untuk hidup sesuai kata hati. Dan di tengah gemerlap pertunangannya sendiri, Sinta justru merasa semakin kecil. Niko berdiri di samping Sinta, memperhatikan wajah wanita itu yang sejak tadi tampak kosong. Sorot matanya redup, senyumnya tipis dan dipaksakan. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Perlahan, Niko menurunkan pandangan, hingga matanya melihat pada lebam samar di pergelangan tangan Sinta, bekas cengkeramannya sendiri beberapa hari lalu. Niko meraih tangan Sinta pelan, jauh lebih lembut dari biasanya. Sinta sedikit terkejut, menoleh menatapnya. “Sinta… aku minta maaf.” Sinta terdiam. Tatapannya kosong, tapi jemarinya bergetar halus di dalam genggaman Niko. N“Aku tahu… aku sering menyakitimu. Bukan cuma dengan kata-kata, tapi juga dengan perbuatanku.” pandangannya turun lagi ke lebam di tangan Sinta “Aku benar-benar menyesal.” Sinta menarik napas pelan, mencoba tersenyum, meski terasa getir. “Nggak apa-apa, Niko. Sudah biasa.” Kalimat itu justru menusuk lebih dalam. Niko menggeleng cepat, “Justru itu yang bikin aku makin benci sama diriku sendiri. Kamu nggak seharusnya terbiasa disakiti. Aku sering kehilangan kontrol. Emosiku meledak, dan kamu yang selalu jadi pelampiasannya.” Sinta menunduk, menatap jemari mereka yang saling menggenggam. “Aku tahu kamu sedang tertekan. Aku cuma… berusaha mengerti.” Niko tersenyum pahit. “Dan aku memanfaatkan pengertianmu.” Ia menghela napas panjang, lalu menatap Sinta dengan sorot mata yang jarang ia tunjukkan. Nm“Aku takut, Sinta. Takut semua ini gagal. Takut nggak bisa memenuhi harapan keluarga. Tapi ketakutan itu justru membuatku berubah jadi orang yang paling menyakitimu.” Sinta mengangkat wajah, menatap Niko lama. Ada lelah di matanya, ada luka yang tak sepenuhnya sembuh. “Aku cuma ingin dihargai, Niko. Sesederhana itu.” Kalimat sederhana itu membuat Niko tercekat. “Aku janji… aku akan berubah.” Sinta tersenyum tipis. Senyum yang indah, namun sarat kelelahan. “Janji itu… sudah sering aku dengar.” Niko terdiam. Tak ada bantahan. Karena ia tahu, Sinta benar. Di tengah gemerlap pesta pertunangan mereka, percakapan itu terasa seperti ironi pahit—sebuah ikatan suci yang dibangun di atas luka, harap, dan janji-janji yang belum tentu bisa ditepati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN