Bab 15

1184 Kata
Suasana di ruang IGD sore itu kacau. Suara tangisan anak-anak bercampur dengan langkah kaki para perawat yang berlari, bunyi tandu yang didorong tergesa, juga teriakan panik para guru dan orang tua yang baru saja tiba setelah kabar kecelakaan bus study tour itu tersebar. Beberapa anak mengalami luka ringan. Namun beberapa lainnya harus segera ditangani dengan serius. Di salah satu sudut ruangan, tangisan paling keras datang dari seorang anak laki-laki kecil. Rafandra. Anak itu meraung kesakitan, tangannya mencengkeram baju Sinta dengan kuat seolah takut dilepaskan. Darah mengalir dari luka di jidatnya, menetes hingga membasahi pakaian Sinta. “Rafa… Rafa… tidak apa-apa… tidak apa-apa…” Suara Sinta bergetar saat ia mencoba menenangkan. Tangannya gemetar. Ia menekan luka di dahi Rafa dengan kain yang diberikan seorang perawat, berusaha menghentikan darah yang terus mengalir. “Kak… sakit…” tangis Rafa semakin keras. Sinta memeluknya lebih erat. “Iya… iya sayang… sebentar lagi dokter datang… Rafa kuat ya… Rafa anak hebat…” Namun justru Sinta sendiri yang hampir tidak bisa menahan air matanya. Melihat darah itu membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Di kepalanya hanya ada satu ketakutan, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Rafa. Di sisi lain koridor IGD. Rama baru saja keluar dari ruang operasi. Ia baru menyelesaikan operasi darurat salah satu korban kecelakaan lain. Masker operasi masih menggantung di lehernya, langkahnya cepat menuju ruang IGD setelah mendengar laporan ada beberapa pasien anak yang baru datang. “Dok, ada anak dengan luka di kepala. Lumayan dalam,” lapor salah satu perawat. Rama mengangguk singkat. “Oke, saya lihat.” Langkahnya cepat, namun saat ia memasuki ruang IGD… Langkah Rama mendadak berhenti, matanya terpaku pada satu pemandangan. Seorang wanita sedang memeluk anak kecil yang menangis histeris. Pakaiannya berlumuran darah. Dan wanita itu… Sinta. Jantung Rama seperti berhenti berdetak beberapa detik. “Sinta…?” Nama itu hampir saja keluar dari bibirnya, wanita itu terlihat panik, wajahnya pucat, tangannya gemetar saat mencoba menenangkan anak kecil di pelukannya. Rama bahkan tidak sempat memikirkan apapun lagi. Ia langsung berjalan mendekat. “Biarkan saya lihat lukanya.” Suara Rama tegas, profesional, seperti seorang dokter yang sedang bekerja. Namun bagi Sinta, suara itu terlalu familiar. Tubuh Sinta membeku seketika. Pelan… sangat pelan… ia mengangkat kepalanya. Dan mata mereka bertemu. Untuk beberapa detik, dunia di sekitar mereka seperti menghilang. Tidak ada suara tangisan. Tidak ada hiruk pikuk IGD. Tidak ada orang lain. Hanya mereka berdua. Sinta membelalak kaget. “Kak… Rama…?” Nafasnya tercekat. Sementara Rama juga menatapnya tanpa berkedip. Sudah lama tidak bertemu, namun pertemuan mereka kembali justru terjadi di tempat seperti ini. Rama akhirnya tersadar lebih dulu. Ia menunduk melihat Rafa yang masih menangis keras. “Dia Rafandra?” tanya Rama cepat, meski nada suaranya sedikit berubah. “Iya, ” Suara Sinta bergetar. Rama tidak bertanya lagi, ia segera berjongkok di depan Rafa. “Halo jagoan… dokter mau lihat lukanya ya.” Rafa masih menangis sambil memeluk Sinta erat. “Tidak… sakit…” Sinta mengusap rambut Rafa pelan. “Rafa… dokter mau bantu… supaya nggak sakit lagi…” Rama dengan hati-hati memeriksa luka di jidat anak itu. Untungnya tidak terlalu dalam, namun tetap harus dijahit. “Lukanya harus dijahit sedikit,” kata Rama pada perawat. Sinta langsung pucat. “Dijahit…?” Ia menatap Rafa yang masih menangis dan langsung memeluk anak itu lagi. Rama meliriknya sekilas, Ia melihat sesuatu yang membuat dadanya terasa aneh. Sinta terlihat… sangat panik, berbeda dari Sinta yang ia kenal dulu. Rama kemudian berkata lembut pada Rafa. “Kalau Rafa berani, dokter kasih hadiah nanti.” Rafa masih terisak. “Apa…?” Rama tersenyum tipis. “Stiker superhero.” Rafa sedikit terdiam. Tangisnya mulai mereda meski masih sesenggukan. Sinta mengelus punggung anak itu perlahan. Sementara Rama… tanpa sadar kembali melirik wajah Sinta. Pakaian wanita itu berlumuran darah, rambutnya sedikit berantakan, namun yang paling mengganggu Rama adalah… Mata Sinta, mata itu terlihat sangat lelah. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu lagi… Rama melihat dengan jelas bahwa Sinta benar-benar tidak baik-baik saja. Rafa akhirnya dibawa ke salah satu ruang tindakan kecil di IGD. Lampu putih terang menyinari ranjang periksa tempat anak itu duduk. Tangisnya masih tersisa, sesekali berubah menjadi rengekan kecil. Tangannya tidak mau lepas dari tangan Sinta. “Rafa… sebentar saja ya,” bujuk Sinta dengan suara lembut yang sebenarnya bergetar. Ia berdiri di samping ranjang, menggenggam tangan adiknya erat-erat. Telapak tangan Sinta bahkan terasa dingin. Rama sudah mengenakan sarung tangan medis. Wajahnya kembali serius seperti dokter pada umumnya, tapi sorot matanya beberapa kali melirik ke arah Sinta. “Rafandra, ya?” tanya Rama lembut. Rafa mengangguk kecil sambil sesenggukan. “Kita jahit sedikit saja supaya lukanya cepat sembuh. Nggak lama kok.” Rafa langsung menangis lagi. “Tidak mau… sakit…” Sinta menelan ludah. Ia ikut menegang. “Rafa… lihat kakak… lihat kakak…” Sinta memegang pipi anak itu pelan, memaksanya menatap. “Aku di sini. Nggak kemana-mana.” Rama memperhatikan itu sekilas sebelum mulai membersihkan luka di jidat Rafa dengan cairan antiseptik. Begitu kapas menyentuh luka— “AAAHHHH!” Rafa menjerit keras. Tubuh kecilnya langsung meronta. Sinta refleks memeluknya dari samping. “Maaf… maaf sayang… sebentar ya… sebentar saja…” suara Sinta hampir seperti orang yang ikut merasakan sakit itu. Rama menahan kepala Rafa dengan hati-hati. “Rafa, lihat dokter… lihat sini.”. Namun anak itu tetap menangis keras, Rama akhirnya mengambil langkah lain. Ia berbicara sambil tetap bekerja. “Kamu suka robot nggak?” Tangisan Rafa sedikit terhenti di sela-sela isakan. “…suka…” “Dokter juga suka robot. Tapi robot itu hebat karena dia berani waktu diperbaiki.” Rama mulai menjahit luka kecil itu dengan gerakan cepat namun sangat hati-hati. Jarum menembus kulit, Rafa kembali menjerit. Sinta sampai memejamkan mata, ikut meringis. “Sebentar lagi… sebentar lagi selesai…” bisik Sinta terus-menerus di telinga adiknya. Tangannya mengusap rambut Rafa. Rama mempercepat pekerjaannya. Satu jahitan. Dua. Tiga. Setelah beberapa menit yang terasa sangat lama bagi Sinta— “Sudah.” Rama akhirnya meletakkan alat jahit. Perawat segera membersihkan kembali luka Rafa dan menutupnya dengan perban kecil. Tangisan Rafa perlahan berubah menjadi rengekan lemah. Sinta langsung memeluknya. “Anak hebat… anak hebat…” bisiknya berkali-kali sambil mencium kepala Rafa. Anak itu akhirnya hanya terisak kecil dalam pelukan kakaknya. Rama melepas sarung tangannya. Ia mengambil sesuatu dari meja perawat. Sebuah stiker kecil bergambar superhero. Rama menempelkannya di tangan Rafa. “Nah. Janji dokter.” Rafa menatap stiker itu dengan mata masih basah. Tangisnya benar-benar berhenti. “…aku hebat?” Rama tersenyum tipis. “Iya. Paling hebat di ruangan ini.” Rafa akhirnya memeluk Sinta lagi, kali ini lebih tenang. Sinta menghela napas panjang, seolah baru bisa bernapas setelah beberapa menit menahan semuanya. Baru setelah itu ia menoleh pada Rama. Untuk beberapa detik mereka kembali saling menatap. Dekat sekali. Lebih dekat dari pertemuan-pertemuan singkat sebelumnya yang hanya berupa pesan atau unggahan media sosial. Sinta menunduk sedikit. “Terima kasih… Kak.” Kata itu keluar pelan, sangat pelan. Rama tidak langsung menjawab. Matanya justru tertuju pada tangan Sinta yang masih menggenggam Rafa. Di sana terlihat samar, bekas kebiruan di pergelangan tangan wanita itu. Rama mengerutkan kening sedikit. Ia tidak mengatakan apa-apa. Namun sesuatu di dalam dirinya kembali terasa tidak tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN