Pagi ini udara terasa lebih dingin daripada tadi malam. Sisa-sisa hujan subuh tadi, masih menetes di dedaunan. Rencana pagi ini akan turun ke danau terpaksa dibatalkan karena awan pun masih tampak mendung.
"Nah, ini dia yang ditunggu udah bangun!" Papa Danisha menyapa Danisha, Shafa dan Ara.
Di meja makan telah berkumpul Dewanto, Donni, Shafri dan Damar. Airina dan Amira tampak sedang berkutat di dekat kompor.
"Eleeh ... Papa pasti pengen minta dibikinin kopi sama Ara, kan?" tuduhan Danisha tepat sasaran.
"Hahaha! Tau ajaa! Gih, bantuin Ara bikin kopi, sekalian kamu belajar, nanti di rumah bisa bikinin untuk Papa."
"Males ah, percuma ada Mbok Ninik dong, kalau Sha juga yang kerjain."
"Kamu sih emang gak bisa apa apa!" ledek Damar sambil mencebik.
"Biarin, wleek!" Danisha menghampiri Dewanto dan memeluknya dari belakang.
Semua yang ada di dapur tertawa menyaksikan tingkah dua kakak beradik itu.
"Ayah, teh s**u aja ya, Ra!"
"Siap, Yah! Om Shafri, kopi atau teh?"
"Karena kopi udah sering, sekarang pengen nyobain teh s**u buatan Ara deh."
"Oke siaap, Om!"
Ara bergegas menuju pantry dapur. Menyapa duo Mama yang sedang mengolah nasi goreng untuk sarapan.
Ara menyiapkan bahan-bahan untuk membuat teh dan kopi s**u di meja pantry. Air panas yang baru mendidih sudah tersedia di termos tidak perlu dipanaskan lagi. Sesaat akan menyeduh teh ...
"Aku kok gak ditanya mau apa?"
Damar tiba tiba sudah di samping Ara sambil menyandarkan tubuhnya di meja pantry. Dua tangannya bersedekap di depan d**a.
"Bukannya udah ada teh manis, tuh?" Ara menunjuk teko teh manis yang telah tersedia di meja dengan gerakan kepalanya.
"Gak mau teh, aku mau kopi seperti tadi malam. Enak banget, bikin nagih! Buatin ya?" Damar membujuk sambil menaik turunkan alisnya.
"Kamu itu, Dam! Gangguin Ara mulu dari kemarin," Dinda yang baru keluar dari toilet dapur menyela saat Ara baru saja hendak menjawab permintaan Damar.
"Danisha boleh ditukar dengan Ara gak, Ma? Soalnya, Ara lebih rajin, banyak pinternya lagi!" sengaja Damar bicara agak keras untuk menggoda Danisha.
Danisha sontak membelalakkan matanya. Dewanto dan yang lainnya tertawa melihat kedua kakak beradik itu yang selalu saling ejek.
Ara tersenyum masam saja menanggapi perkataan Damar, ia sudah kebal. Ara sudah meyakinkan dirinya bahwa Damar hanya menganggapnya sebagai adik, tak lebih. Kalaupun ada perlakuannya yang manis kepada Ara, pastilah karena rasa sayang yang sama seperti sayangnya pada Danisha.
Lagipula kalau Ara pikir-pikir, Damar memang tidak pernah bersikap melewati batas seorang kakak kepada adiknya. Makan berdua tadi malam pun benar-benar hanya makan malam biasa sambil mengobrol tentang kuliah dan hal-hal remeh lainnya. Ditambah lagi Damar yang senang bercanda membuat situasi sangat nyaman, hingga tak terasa mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol hingga pukul 11.00 malam.
Cukuplah rasa cinta Ara sampai di sini. Cukuplah cinta masa lalunya tersimpan sebagai kenangan. Saatnya kini berdamai dengan hati, merubah rasa cintanya menjadi rasa sayang.
---
"Ayolah Araa ... Renang yuuk! Lu udah janji kemarin sama gue, sama Danisha bakal renang, kan?" bujuk Shafa sambil menarik-narik lengan Ara
"Mumpung gak panas nih mataharinya, gak bakal item deh lu! Please ...."
"Siapa juga yang takut item!" Ara menjawab santai, bergeming di sofa single sambil menonton tayangan di televisi.
"Ya udah kalau gitu, ayo sekarang!" paksa Danisha lagi.
"Gue bersin-bersin nih, gue gak mau jadi flu beneran. Kalian aja deh, gue temenin di pinggir kolam, ya?" Ara memang agak pusing dan hidungnya sedikit meler sejak tadi malam. Tapi pagi ini pusingnya sudah hilang, tersisa bersinnya yang masih ada sesekali.
"Ish ... Ya udah la! Yuk, temenin kita ganti baju," akhirnya menyerah, tak bisa membujuk Ara. Danisha dan Shafa menyeretnya ke kamar di lantai atas.
Selesai berganti pakaian, ketiganya segera turun kembali menuju kolam renang. Ternyata sudah ada Ammar dan Satria yang sedang berenang, tampak mereka berlomba mencapai sisi tepi kolam.
Shafa berlari dan langsung melompat ke dalam kolam. Demikian juga Danisha. Sejujurnya Ara benar benar ingin ikut nyemplung, apa daya badannya dirasa sedang tidak cukup fit, daripada harus merasakan hidung meler berhari hari, mending godaannya ditunda dulu.
Ikut tertawa-tawa dan gemas menyaksikan permainan cari batu yang dimainkan Danisha dan yang lainnya, Ara berpindah duduk dari kursi lounger ke lantai tepian kolam. Lebih dekat, pastilah menjadi sasaran Ammar dan Satria untuk diciprati air. Kaos putih dan celana jins selutunya sudah mulai basah di sana sini.
"Udah basah Lu. Udah deh, turun aja sini!" perintah Shafa.
Ara mencebik sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa gak ikut renang?"
Ara terperanjat, dia tak tau sejak kapan Damar duduk dikursi lounger dibelakangnya.
"Ish! Udah kayak setan aja, tiba-tiba ada suara!"
Damar terkekeh mendapati Ara yang terkejut saat ia sapa.
"Dari tadi malam bersin-bersin mulu. Ntar makin jadi flu nya kalau ikutan renang." Ara bangkit dari lantai kemudian pindah duduk ke kursi yang sama dengan yang Damar duduki. Karena kursinya panjang, duduk mereka tetap berjarak.
"Kelamaan ngobrol tadi malam tuh, makanya masuk angin," ucapnya sambil meletakkan telapak tangannya ke kening Ara, "Tapi gak demam, kan?" lanjut Damar lagi.
Terkejut disentuh Damar, Ara menggeleng cepat. Ara yang belum pernah skin to skin dengan Damar tentu saja tergagap mendapati perlakuan Damar, apalagi Damar mencondongkan tubuhnya kearah tubuh Ara. Tak bisa dipungkiri, sekeras apapun usaha Ara meyakinkan dirinya untuk tak baper akan perlakuan Damar, tetap saja jantungnya bergejolak.
Damar yang tak sengaja melihat perubahan wajah Ara yang memerah, tiba tiba merasa sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sudah lama tak dia rasa. Sesuatu yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Sepersekian detik terpesona, Damar segera mengalihkan pandangannya, sekaligus untuk menetralkan jantungnya.
Mengalihkan pandangan ke arah Danisha yang tampak sedang tertawa seru bersama yang lain. Sepertinya permainan sudah berganti, saat ini tampak Satria yang tengah mengejar mereka kesana kemari.
Lama saling berdiam diri dengan pikiran masing-masing, Ara akhirnya memutuskan untuk kembali mendekati kolam renang.
Langkah Ara yang agak tergesa gesa menyebabkan Ara tak berhati-hati, lantai keramik yang sudah basah terkena cipratan air menyebabkan Ara terpeleset. Tubuhnya oleng kebelakang, tak sempat tertangkap oleh Damar, akhirnya Ara terduduk dan meluncur tercebur ke dalam kolam renang.
Damar meringis membayangkan sakitnya, menatap Ara serius ketika kepala Ara sudah keluar dari dalam air. Danisha dan yang lainnya bukannya menolong malahan tertawa terpingkal-pingkal.
Ara terbatuk-batuk, ia tersedak air kolam renang.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Damar khawatir
Ara menggeleng sambil masih terbatuk. Ada air yang masuk kehidungnya ketika dia tercebur tadi, untung saja Ara tercebur di bagian kolam yang tidak dalam.
"Akhirnyaaa ... berenang juga kan, Ra!" ujar Shafa di sela-sela tawanya.
"Sakit Kak?" pertanyaan Ammar sungguh tak perlu dijawab.
"Sakitnya sih bisa ditahan, malunya ini yang gak tahan!" sela Satria.
Kembali mereka tertawa. Ditambah lagi setelah melihat wajah Ara yang sudah merah padam.
"Sialan, Lu pada!" gerutu Ara kesal campur malu. Bergegas menuju tepian ingin cepat keluar dari kolam renang. Tak terbayang rona wajahnya seperti apa saat ini.
Damar yang sudah berdiri dari tadi dipinggir kolam memperhatikan Ara, tak ingin membuat Ara bertambah kesal, ditahannya sekuat tenaga untuk tak ikut tertawa.
"Sini, naik dari sini, Ara! Aku bantu tarik." perintah Damar
Ara yang sudah kesal, malu dan kesakitan tanpa pikir panjang lagi segera menuju ke arah Damar yang posisinya memang lebih dekat dibandingkan harus menuju tangga yang berada di sisi seberang.
Akhirnya Ara keluar dari kolam renang dalam keadaan basah kuyup. Kaos putih berlogo Starbucks yang Ara kenakan melekat sempurna membentuk badannya. Ara tak sadar, bahkan warna dan bentuk bra yang dia kenakan pun tercetak jelas.
Masih memeras-meras ujung kaosnya di pinggir kolam renang, sampai akhirnya deheman pelan Damar menarik perhatian Ara. Sambil menyerahkan handuk kering -entah punya siapa- yang tergeletak di salah satu kursi, Damar susah payah menelan salivanya.
'Sial!'
Pemandangan di depannya seolah membuktikan bahwa teman adiknya ini bukanlah bocah lagi. Sebagai pria dewasa yang normal, tentu saja terjadi desiran di bagian-bagian tertentu di tubuhnya.
Cepat-cepat Damar mengalihkan pandangannya ke arah Ammar dan Satria yang ternyata masih terpana melihat pemandangan yang tentu saja langka bagi kedua anak SMA itu.
'Padahal mereka hanya lihat bagian punggung, gimana gue yang lihat dari depan?' rutuk Damar dalam hati sambil berusaha keras menghapus ingatannya tentang bra merah berenda tadi.
.
.
.
Tbc gaes ^_^