"Masih sakit, Neng?" bisik Samudra dari belakang Ara, nafas hangatnya menerpa tengkuk Ara. Ara memejamkan matanya. Segala rasa bercampur aduk di raganya saat ini. Sakit, kesal, lega, malu. Ara bergeming tak menjawab. Sudah lebih dari tiga puluh menit berlalu dari pelepasan Samudra, Ara mendiamkannya. "Jangan diem aja Ra, maafin Aa', ya," Samudra mengetatkan pelukannya dari belakang, karena Ara tak mau bergeser sedikitpun dari posisi meringkuknya. Susah payah Samudra menahan gejolak hasratnya yang kembali bangkit, mereka masih sama-sama polos didalam selimut itu, sedikit saja salah gerak, dijamin, bakal ada drama tangis-cakar part dua. Benar saja! "A'! Gak usah macem-macem ya! Ini aja ngilunya masih kerasa, itu si pepo udah keras aja! Jauh-jauh sana!" ketus Ara pada Samudra, namun ta

