Meski enggan, Ans akhirnya pulang terlebih dahulu siang itu dengan menggunakan pesawat ke Jogjakarta. Sebetulnya ia ingin naik kereta saja, tapi ayahnya melarang. “Nanti kamu kelamaan di jalan. Lebih cepat sampai rumah lebih baik,” Raka beralasan. “Papa janji ya, akan baik-baik saja nanti di ruang operasi” “Iya. Cuma kaki kok. Tenang saja, ada oma sama opa juga pakde Reksa nanti di sana. Kamu baik-baik ya. Jangan lupa kabari om Yudha soal rumah itu, biar nanti om Yudha yang urus.” Ans mengangguk. Rasanya berat meninggalkan ayahnya seorang diri dalam keadaan seperti itu. Meski ada om dan tantenya yang kerap menjenguknya, tapi mereka tak bisa menungguinya sepanjang waktu. “Sini, Papa mau peluk kamu dulu,” ucap Raka. Ans mendekat, masuk ke dalam pelukan ayahnya yang duduk di atas ranja

