Citra bergegas turun meninggalkan suaminya. Tapi langkah Raka yang lebar berhasil menyusulnya dengan cepat dan menarik tangannya hingga mereka berjalan berdampingan. “Kamu bawa suami lho, Yang, bukan sopir.” Citra tersenyum geli. “Iya, suamiku.” Raka mendorong pintu perlahan. Dari ruang tamu mereka bisa mendengar suara Ans tengah berbincang dengan kakek-neneknya di dalam. Mereka berjalan masuk kemudian memberi salam. “Assalamualaikum.” “Waalaikumussalam.” “Ans,” panggil Citra menatap anak sulungnya dengan mata berkaca-kaca. “Mama,” Ans bangkit dan menghambur ke dalam pelukan ibunya. “Ans tidak apa-apa?” Citra mengecup kepala anaknya kemudian memeriksa anggota tubuh Ans. “Gak apa-apa, Mama. Maaf, udah bikin Mama cemas.” “Yang penting Ans sudah tidak apa-apa,” Citra memeluk kembali

