Bab 20

1946 Kata

Zahra benar-benar terkejut. Dia baru membuka mata dan menyadari dirinya berada di rumah sakit. Bau antiseptik pekat memenuhi penciumannya. Dia masih ingat samar-samar sebelum semuanya menjadi gelap. Dia berada di kafe, mereka sibuk melayani pengunjung dan pesanan delivery. Lalu dia merasa pusing... Semua terjadi dalam waktu singkat, hingga dia mendengar teriakan panik Gilang, dan semuanya jadi gelap. Dia melihat Gilang, merasa lega. Tapi Arvin juga ada di sana. “Mas…” Zahra kembali memanggil. Suaranya pelan. Serak. Hampir tenggelam oleh dengung alat medis. Namun cukup terdengar oleh kedua pria yang berdiri saling berhadapan di depan pintu ruangan itu. Mereka serempak menoleh. Dalam sepersekian detik, udara di lorong terasa menegang. Arvin dan Gilang bergerak hampir bersamaan. La

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN