Malam itu rumah Arvin terasa lebih hidup dari biasanya. Meja makan dipenuhi hidangan rumahan—sayur bening buatan ibunya, ayam panggang favorit Arvin, dan sambal yang dibuat khusus karena ibunya tahu, Arvin tak pernah bisa makan tanpa rasa pedas.
Tawa kecil keponakannya yang sedang lucu-lucunya sesekali pecah, menyela obrolan orang dewasa dengan pertanyaan polos yang membuat suasana makin hangat.
Miranda duduk di samping Arvin, sesekali menyodorkan tisu, sesekali menyuap makanan. Ia terlihat tenang, ramah seperti biasa—menantu idaman yang selalu tahu cara menempatkan diri.
Arvin mengamati itu sambil makan perlahan, perasaannya campur aduk.
“Masakan Mama nggak pernah berubah ya,” ujar kakak perempuannya sambil tersenyum. “Selalu bikin kangen.”
Ibunya tertawa kecil. “Kalau berubah nanti kalian protes.”
Ayah Arvin ikut tersenyum, lalu pandangannya bergeser pada cucu perempuannya yang sedang duduk di kursi khusus balita sambil disuapi ibunya. Tatapan itu menghangat—dan seperti yang selalu terjadi, berubah menjadi kerinduan.
“Vin,” panggil sang ayah lembut. “Papa sama Mama senang banget lihat rumah kamu ramai begini.”
Arvin mengangguk, masih tersenyum.
“Cuma ya itu,” lanjut ayahnya, nada suaranya penuh harap. “Papa kepikiran terus… kapan Papa bisa gendong cucu dari kamu.”
Sendok Arvin berhenti di tengah jalan. Ia tak langsung menjawab. Seperti refleks, ia menoleh ke Miranda dan nyengir kecil—senyum tipis yang lebih mirip kebiasaan bertahan daripada tawa sungguhan. Miranda membalasnya dengan senyum tenang, seolah pertanyaan itu bukan hal baru.
Ibunya menimpali dengan hati-hati, “Mama nggak ada maksud memaksa kalian berdua. Cuma… kamu kan anak laki-laki Mama satu-satunya.”
Tiga tahun.
Tiga tahun kalimat itu berulang dengan bentuk berbeda.
Arvin menarik napas pelan. Kehangatan di sekelilingnya justru membuat dadanya sesak. Ia menatap meja, lalu mengangkat wajahnya kembali. Kali ini ia tidak ingin menghindar.
“Pa, Ma,” ucapnya pelan, namun tegas. “Arvin capek jawab pertanyaan yang sama.”
Suasana mendadak hening. Semua menoleh padanya—termasuk Miranda.
“Kami bukannya nggak mau cepat-cepat punya anak,” lanjut Arvin, suaranya tetap terkendali. “Tapi untuk sekarang… kami sepakat menunda.”
Ibunya mengerjap. “Menunda?”
Arvin mengangguk. Ia melirik Miranda sekilas, lalu kembali menatap orang tuanya. Sebelumnya dia dan Miranda sepakat menjawab pertanyaan soal anak itu dengan mengatakan akan berusaha. Sekarang dia tidak tega memberi harapan kosong, sementara istrinya punya rencana lain.
"Miranda lagi fokus sama kariernya. Lagi bagus-bagusnya. Banyak tanggung jawab yang harus dia pegang.”
Miranda menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah dengan senyum sopan. “Iya, Ma,” katanya lembut. “Aku pengin menyelesaikan beberapa hal dulu. Biar nanti, kalau waktunya datang, aku bisa benar-benar siap jadi ibu.”
Arvin menyambung, “Kami pengin menikmati waktu berdua dulu. Bukan karena ego. Bukan juga karena nggak menghargai harapan Papa dan Mama.”
Ayah Arvin terdiam, menautkan jari-jarinya di atas meja. Beberapa detik kemudian, ia menghela napas panjang. “Papa cuma takut kalian menyesal kalau terlalu lama menunda.”
Arvin mengangguk pelan. “Kami ngerti ketakutan itu. Tapi keputusan ini kami ambil bareng.”
Ibunya menatap Miranda lama, lalu tersenyum kecil—senyum yang masih menyimpan harap, tapi juga pengertian. “Kalau itu keputusan kalian berdua,” katanya akhirnya, “Mama cuma bisa doakan semoga semua dimudahkan.”
Suasana perlahan mencair kembali. Kakak Arvin mengajak bicara tentang rencana liburan, keponakannya kembali tertawa, dan piring-piring kembali bergerak.
Namun di balik kehangatan itu, Arvin merasakan sesuatu yang ganjil. Ia telah mengatakan kebenaran—setidaknya sebagian. Dan meski rumah itu tetap hangat, ada jarak tipis yang tak terlihat, menggantung di antara dirinya dan Miranda.
Ia menoleh ke istrinya. Miranda masih tersenyum, masih tampak sempurna.
Namun, Arvin justru merasa senyum itu terasa jauh.
***
Rumah kembali sunyi setelah pintu tertutup dan deru mesin mobil terakhir menghilang di ujung jalan. Sisa-sisa kehangatan keluarga masih tertinggal di ruang makan—aroma masakan, gelas-gelas yang belum sepenuhnya kering, dan tawa yang baru saja menghilang. Pelayan mereka bergerak cekatan membereskan meja, bunyi porselen beradu pelan, mengisi kekosongan.
Arvin berdiri di dekat jendela, menatap halaman yang kini kosong. Ia mengendurkan dasinya, lalu mengusap tengkuk, seolah di sana tertinggal beban yang belum lepas. Di belakangnya, Miranda melangkah mendekat. Tumit sepatunya tak berbunyi keras, selalu terjaga tanpa mengganggu.
“Mas,” panggil Miranda lembut.
Arvin menoleh. Miranda berdiri dengan ponsel di tangan, layar menyala. Wajahnya berseri—kilau yang sama seperti saat ia menceritakan pencapaian kerja, kilau yang dulu membuat Arvin jatuh cinta.
“Aku mau nunjukin sesuatu,” kata Miranda, nadanya bersemangat tapi tertahan, seolah menunggu izin.
Ia menyerahkan ponsel itu. Arvin menerima, matanya menyapu layar. Draf kontrak—logo perusahaan ternama di bagian atas, paragraf-paragraf rapi dengan istilah profesional yang panjang. Angka-angka di kolom nilai proyek membuat Arvin berhenti sejenak.
“Ini… besar,” ucapnya pelan.
Miranda mengangguk cepat. “Iya. Proyek penataan rumah pribadi dua pejabat. Timnya kecil, tapi tanggung jawabnya gede. Mereka minta aku jadi leadnya.”
Pelayan lewat di belakang mereka, membawa nampan. Miranda menunggu sampai langkah itu menjauh, lalu mendekat lagi, suaranya turun setingkat. “Ini yang aku kejar selama ini, Mas.”
Arvin mengangguk, masih menatap layar. Ia mencoba merasakan kebanggaan yang seharusnya muncul—dan memang ada, tipis tapi nyata. Namun bersamaan dengan itu, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
“Kapan mulai?” tanyanya.
“Minggu depan,” jawab Miranda cepat. “Makanya aku harus sering bolak-balik Jakarta-Sorong. Tapi setelah ini selesai, banyak pintu yang bakal kebuka.”
Arvin mengembalikan ponsel itu. “Selamat,” katanya. “Beneran.”
Miranda tersenyum lebar, lalu—seperti refleks—memeluk lengannya. “Aku tahu tadi di meja makan… kamu capek dengar soal cucu.”
Arvin menarik napas, menahan kata-kata yang berdesakan. “Aku cuma pengin jujur.”
“Aku juga,” sahut Miranda. “Aku nggak mau janji yang nggak bisa aku tepati.”
Pelayan kembali, mengangguk sopan, lalu berpamitan. Pintu dapur menutup. Tinggal mereka berdua.
Miranda mencondongkan tubuh, bersandar di meja. “Kamu kesel?”
Arvin menggeleng. “Aku… lelah.”
Miranda mengamati wajahnya, lebih lama dari biasanya. “Kita lagi di fase yang berat, Mas. Tapi ini sementara.”
Sementara. Kata itu menggantung di udara. Arvin memandang wajah istrinya—garis tegas di rahang, mata yang selalu fokus ke depan. Ia ingin bertanya banyak hal, ingin mengatakan bahwa “sementara” sudah terasa lama. Namun yang keluar hanya anggukan.
“Oke,” ucapnya singkat.
Miranda tersenyum lagi, senyum profesional yang hangat. “Aku ke kamar dulu ya. Besok aku harus rapat pagi.”
“Ya.”
Miranda melangkah pergi. Arvin tetap di tempatnya, menatap meja yang kini bersih. Draf kontrak itu mungkin membawa masa depan yang cerah—untuk Miranda.
Untuk mereka? Arvin tak lagi yakin.
Ia memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali. Rumah itu rapi, terang, dan terasa… kosong.
***
Kegelapan masih menggantung di kamar Zahra ketika ia terjaga, setengah sadar, setengah terperangkap mimpi yang belum sepenuhnya melepaskannya. Tirai jendela tertutup rapat, membuat waktu terasa kabur— masih siang atau sudah malam, ia tak tahu. Yang ia tahu, tubuhnya terasa asing. Berat. Panas dingin.
Zahra mengerang pelan saat mencoba menggerakkan tubuh. Seluruh persendiannya nyeri, seperti habis jatuh dari ketinggian. Tenggorokannya kering, kepalanya berdenyut, dan ketika ia sedikit menggeser posisi, rasa perih yang tajam di antara kedua pahanya membuat napasnya tercekat.
“Ya Allah…” bisiknya lirih.
Ia memejamkan mata lagi, ingatan berloncatan datang tanpa izin—lampu kamar hotel yang redup, suara pintu tertutup, kehangatan tubuh lain yang terlalu dekat, terlalu nyata. Zahra menarik selimut hingga menutup bahunya, seolah kain tipis itu bisa menyembunyikan rasa malu yang merambat ke kulitnya.
Tubuhnya jelas belum pulih. Setiap gerakan kecil mengingatkannya bahwa semalam bukan sekadar mimpi buruk. Ada sensasi perih yang tumpul namun menetap, rasa tidak nyaman yang khas—tubuh perempuan yang baru pertama kali disentuh terlalu jauh, agak sedikit kasar oleh keadaan yang tak ia pilih dengan sadar.
Air matanya mengalir tanpa suara.
“Aku… kotor,” gumamnya, suaranya serak.
Zahra menoleh ke samping. Jam dinding menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Berarti ia tidur berjam-jam tanpa terbangun, seolah tubuhnya menyerah dan memilih mengabaikan dunia. Ia mencoba bangkit, namun meriang membuatnya limbung. Kepalanya terasa panas, tulang-tulangnya menggigil.
Ia memeluk dirinya sendiri.
“Miranda…” Nama itu meluncur seperti luka baru. Sahabatnya. Orang yang memberinya rumah, kepercayaan, modal, dan cinta tanpa syarat. Zahra menekan wajah ke bantal, menahan isak yang menggetarkan da-da.
“Aku nggak minta ini terjadi,” ucapnya dalam hati, seperti pembelaan yang bahkan ia sendiri tak yakin pantas. “Aku nggak berniat… aku nggak mau…”
Namun kenyataan tetap berdiri di sana, dingin dan telanjang. Apa pun alasannya, tubuhnya telah melewati batas yang seharusnya tak pernah ia sentuh. Dengan suami sahabatnya sendiri.
Rasa bersalah datang berlapis—menekan, mencekik. Ia merasa telah mengkhianati semua kebaikan yang pernah ia terima. Ia ingin memutar waktu, ingin kembali menjadi Zahra yang kemarin pagi: perempuan 23 tahun yang lelah tapi bersih, yang hidupnya sederhana dan prinsipnya utuh.
Sekarang, bahkan cermin pun terasa seperti musuh.
Zahra menggigit bibirnya, menahan rengekan kecil saat kembali menggeser kaki. Perih itu nyata. Tubuhnya mengingatkan dengan kejam bahwa malam itu benar-benar terjadi—bahwa ia telah menyerahkan sesuatu yang tak bisa diulang, tak bisa ditebus.
“Anggap saja ini… hukuman,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Aku terima.”
Ia menatap langit-langit kamar kontrakannya yang sederhana. Catnya sedikit mengelupas di sudut, tapi selama ini tempat itu adalah ruang aman baginya. Kini, bahkan kamar itu terasa asing.
Zahra mengusap wajahnya dengan tangan gemetar. Apa pun yang terjadi setelah ini, satu hal ia tahu dengan pasti: ia harus menjauh. Dari Arvin. Dari semua yang bisa mengingatkannya pada dosa semalam.
Dan ia akan menanggungnya sendiri.
Zahra tidak datang ke kafe hari ini.
Keputusan itu diambilnya dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Bahkan untuk bangkit dari kasur saja ia masih harus mengatur napas, menahan rasa nyeri yang belum sepenuhnya reda. Tubuhnya menolak diajak kompromi, sementara hatinya masih terlalu penuh untuk pura-pura normal.
Dengan jari gemetar, ia menelepon Cici pagi tadi.
“Ci… Mbak nggak bisa ke kafe hari ini,” katanya pelan, suaranya serak seperti orang habis menangis semalaman.
“Loh, Mbak kenapa? Sakit?”
“Sedikit nggak enak badan. Kamu yang pegang semuanya dulu, ya. Uang, stok, sama tutupannya.”
Cici tidak banyak bertanya. Mungkin karena sudah terbiasa Zahra berdiri sendiri dan jarang mengeluh. “Siap, Mbak. Tenang aja.”
Sekarang hari sudah malam. Lampu kamar masih mati, hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar-samar. Zahra kembali meringkuk di bawah selimut, berusaha memejamkan mata, berharap tidur bisa kembali menenggelamkannya dari pikiran-pikiran yang terlalu gaduh.
Namun ponselnya berdering.
Zahra menghela napas pelan sebelum meraih ponsel di samping bantal. Nama Cici muncul di layar.
“Jam tutup kafe,” kata Cici di seberang sana, suaranya ceria seperti biasa. “Ini aku laporin ya, Mbak. Pendapatan hari ini segini, lebih rame dari kemarin. Banyak anak kantor.”
“Hmm… makasih, Ci,” jawab Zahra lirih. Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa perih, kosong.
“Aku sekalian mau mampir ke tempat Mbak Zahra,” lanjut Cici. “Bawain laporan fisiknya. Mbak butuh dibelikan obat nggak?”
Pertanyaan itu membuat Zahra meringis kecil. Ia menutup mata.
Obat apa?
Obat untuk rasa sakit di tubuhnya?
Atau obat untuk rasa bersalah yang menggerogoti dadanya?