Kinan mulai gelisah. Kini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Bagas tidak menunjukkan tanda -tanda keluar dari dalam ruangannya. Berkas yang harus di tanda tangani Bagas juga belum di kembalikan. Biasanya Bagas akan menelepon Kinan dan mengambil semua berkas yang sudah selesai di tanda tangani oleh Bagas. "Hufff ... Ngapain aja sih di dalam. Bukannya cepet di balikin itu berkas biar bisa di kerjain. Malah senagja di tunda," umpat Kinan kesal. Kinan duduk bersandar di kursinya dengan kepala menengadah ke atas dan kedua matanya teerpejam. Bibirnya masih saja mengumpat kesal sambil menggoyang -goyangkan kursinya hingga berputar mengikuti tubuhnya. Kinan mengingat kejadian barusan di dalam ruangan Bagas. Bisa -bisanya Bagas mencuri ciuman di bibirnya. Bibir ini sengaja ingin di berik

