Satu

1576 Kata
Amanda wanita yang genap berusia dua puluh enam, tahun ini. Lebih suka menghabiskan waktu dengan tidur dan nonton film. Semua genre dia suka, dari drama Korea, sampai drama Jepang dia suka. Kulitnya putih, rambutnya kecoklatan lurus sepunggung yang lebih sering terlihat dikuncir asal, dengan hidung yang tidak pesek tapi tidak terlalu mancung juga, khas hidung Asia. Bibirnya tipis namun menarik. Kehidupannya berubah semenjak kedua orang tua yang paling dicintainya di dunia tega meninggalkan untuk selamanya. Mereka kecelakaan lima tahun lalu. Tepat saat Amanda tengah kuliah dan sedang bimbingan skripsi. Hal itulah yang membuat kuliahnya molor hingga dua tahun lamanya. Kalau saja sang dosen pembimbing yang juga kerabat dari ayah tidak mendorongnya, mungkin sampai kini dia tak mau menyelesaikan program sarjananya. Bekerja sebagai freelancer profesional, apa saja dia lakoni asal menghasilkan uang dan pastinya tidak terikat. Karena Amanda sendiri sangat susah bangun pagi. Pernah dia menjadi SPG event, pernah juga menjadi tenaga pengajar selama sebulan untuk menggantikan guru SD yang tengah diklat, dan yang lebih sering dijalanu adalah menjadi petugas cabutan event organizer. Pada dasarnya otaknya pintar, hanya saja dia malas. Malas berpikir yang rumit. Meski terkadang otak pintarnya cukup membantu saat keuangan sedang serat. Seperti sekarang ini. Setelah lima tahun berkutat di rumah sendirian, dia pun berpikir untuk menyewakan kamar sebelahnya yang menganggur, kamar milik almarhum kedua orang tuanya yang dibiarkan terbengkalai. Berdalih menata hati dan menata perekonomian karena biaya listrik yang gila-gilaan, ditambah dia juga masih doyan nasi sedangkan harga beras melambung tinggi, membuatnya berinisiatif menambah pemasukan dari hal itu. Dia pun merapihkan kamar yang sudah disarangi laba-laba, kecoak dan bahkan mungkin tikus tersebut. "Cekrekk ... ." Kamera di ponselnya kini berguna setelah menganggur sekian lama karena malas selfie. Lalu tangannya iseng menekan situs sewa online. Taraaaaa!! Muncullah gambar kamar besar itu yang sudah rapih, lengkap dengan harga dan fasilitasnya. “Hoammmm!” Amanda mengulet di ranjang empuk kesayangannya dengan selimut yang saat ini tepat setengah tahun tidak dicuci. “Siapa sih tuh pagi-pagi?” keluh Amanda mendengar ketukan pintu depan. Dia pun teringat tidak mengunci gerbang setelah semalam membeli nasi goreng. Harusnya gerbang dikunci jadi dia tidak perlu peduli dengan ketukan pintu yang biasanya berasal dari sales panci, bubuk obat nyamuk atau selang gas. Matanya mengerjap malas, kakinya diseret ke sumber suara sambil tangannya menguncir asal rambut yang sudah berantakan itu. “Cari siapa mas?” tanya Amanda sambil menguap, tak diperdulikan tampangnya yang acak-acakan. Matanya bertatapan dengan seorang pria tinggi dengan hidung yang sangat mancung. Juga bibir yang seksi dan jakun yang menonjol di lehernya. Matanya tajam memperhatikan Amanda dengan seksama. Lalu bibir seksi itu menorehkan senyum. “Mba Amanda? Saya Dennis, yang semalam menghubungi mba tentang kamar kost.” Dennis mengulurkan tangannya, Amanda ber -oh ria dan membalas jabatan tangan itu. “Oh mas Dennis masuk-masuk, maaf ya Mas rumahnya berantakan,” ucap Amanda sambil mendorong pintu agar terbuka lebih lebar, termasuk pikirannya yang terbuka, dia bahkan menepuk pipinya agar tidak mengantuk lagi. Salahkan drama korea on going yang membuatnya penasaran setengah hidup demi bisa menontonnya meski tanpa subtitle. Sehingga dia baru tidur tepat jam tiga pagi. Dennis mengedarkan pandangan ke rumah yang lebih layak disebut ‘gudang’. Dia bahkan merasakan kakinya menginjak beberapa kertas, entah kertas apa? Langkahnya menuju ke ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang TV. Nampak TV LED tiga puluh dua inci menempel pada tembok, cukup lumayan di ruang tamu yang tidak terlalu besar. Matanya mencoba mengabaikan tumpukan kaleng soda dan mangkuk bekas mie instan yang sudah nampak berkerak. Di sofa tergeletak beberapa jaket yang entah sudah berapa lama tersampir di sana? Sudut mata Dennis menangkap ke arah dapur yang terletak tak jauh dari kamar utama, abaikan tumpukan piring kotor di sana. Dia pun menggeleng lemah, sementara Amanda hanya tersenyum salah tingkah sambil kakinya mencoba menggeser benda-benda di lantai dan menyelipkan ke beberapa sudut, kemana saja, asal Dennis tidak melihatnya. Padahal sebelum dia melakukan itu mata Dennis sudah lebih dulu menangkap sampah yang berserakan. Rumah ini benar-benar tidak terselamatkan. “Ini kamarnya?” tanya Dennis, Amanda hanya mengangguk dan membiarkan Dennis menjelajahi kamar utama itu. Sebuah kamar yang berukuran cukup luas dengan kamar mandi yang terletak di dalam. Lengkap dengan lemari kayu jati warna alami dan bufet panjang, juga spring bed yang terlihat masih sangat layak pakai. Dennis mengangguk dan memutuskan untuk duduk di sofa depan. Sambil melihat Amanda yang mulai menarik beberapa jaketnya dan melemparkan ke sebuah ruangan yang Dennis yakini adalah kamar wanita itu, dan diapun yakin seratus persen kalau kamar milik wanita itu tak jauh berbeda dengan pemandangan sekitar ruang ini. “Memangnya enggak apa-apa kalau kita tinggal bareng? Kita kan beda jenis kelamin? Apa nanti enggak masalah sama warga sekitar?” Amanda meletakkan cola dingin dan mempersilahkan Dennis meminumnya agar suasana mencair. “Nggak Mas, warga di sini nggak iseng orangnya, kemarin aja ada yang dilabrak di sana tuh,” tunjuk Amanda ke arah jendela, lanjutnya, “tapi warga cuma keluar ngelirik doang abis itu pada masuk lagi. Enaknya di sini tuh mereka enggak sibuk ngurusin urusan orang lain. Pak Rt-nya juga slow, selama kita nggak pernah nunggak bayar sampah, keamanan juga uang kas.” “Enggak bakal ada tangkep kawin kan mba? Karena saya mau nge-kost juga agar bisa menabung untuk biaya nikah.” Amanda dapat melihat binar bahagia dari mata Dennis ketika mengucapkan kata menikah. “Enggak, saya jamin itu. Kalau ada tangkep kawin, biar saya yang kawin sama kerbau aja. Lagipula Mas enggak usah sungkan, biar gini-gini saya dulu pernah jadi atlet karate kok.” Amanda menyengir lagi. Memang dia tidak menuliskan mengenai ketentuan kostnya, siapapun yang mau ngekost ya diterimanya, mau laki-laki, mau perempuan, atau laki-laki yang bisa berubah jadi perempuan pun tak masalah baginya, yang penting dia mau bayar kost. Dennis nampak berpikir. Hingga sebuah telepon membuyarkan konsentrasinya, senyumnya langsung mengembang membaca nama yang tertera di ponselnya. “Ya sayang,” sapa Dennis, Amanda menyandarkan tubuhnya ke sofa setelah tadi entah kenapa dia merasa tegang bersikap formal di hadapan lelaki yang bisa dibilang tampan itu, tapi jujur Amanda tidak tertarik dengan pria itu, sekarang sih belum. Entah kalau nanti sore, atau nanti malam? #DilanModeOn “Iya, aku sudah lihat kost-annya, besok mungkin sudah pindah karena apartmentku juga kan sudah disewa sama orang lain. Ya sudah nanti kamu main ke sini ya. Bye.” “Hmm, Mbak Amanda,” panggil Dennis. “Panggil Amanda saja Mas, kayaknya usia Mas lebih tua dari saya.” Amanda secara tidak sadar memajukan lagi tubuhnya, persis seperti mahasiswa sedang ditanya penguji skripsi. “Memangnya umur Mbaknya berapa?” “Dua puluh enam mas.” “Oh beda tiga tahun dong, jadi gak masalah kalau saya ngomongnya pakai bahasa informal ya?” Dennis menaikkan sebelah alisnya yang disambut anggukan antusias oleh Amanda. “Dari tadi kek, pegel aku pura-pura formal,” tutur Amanda, membuat Dennis terkekeh. “Tapi kamu tetap harus panggil aku ‘Mas’ karena lebih tua aku!” ucap Dennis, Amanda mendengus tapi baiklah tidak masalah lagi pula orangtuanya selalu mengajarkannya kesopanan pada yang lebih tua. Amanda pun menjelaskan house rule di sini. Intinya Dennis bebas menjelajah ke semua ruangan kecuali kamar Amanda tanpa seijin Amanda. Dia bebas menggunakan dapur, ruang tamu, ruang TV atau jemuran samping. Dia juga dipersilakan menggunakan kulkas, mesin cuci dan alat masak lainnya. Dennis hanya mengajukan permintaan yang menurut Amanda sangat menguntungkan. Dia meminta dirinya diperbolehkan membereskan rumah ini. Tentu Amanda senang bukan main. Merekapun berjabat tangan setelah Dennis mengulurkan tumpukan uang yang dia keluarkan dari dompetnya untuk membayar sewa kost selama sebulan. *** Mata Amanda sudah mengantuk level tinggi malam ini, tapi dia tak tega membiarkan Dennis membersihkan rumah sendirian, meskipun sebenarnya dari tadi pun dia tidak membantu. Karena Amanda lebih senang duduk sambil ngemil ciki Taro di pojokan dapur. Rumahnya sudah jauh lebih layak sekarang, Dennis menyeka keringat dan duduk tak jauh dari Amanda. Matanya menatap Amanda dari atas kebawah. “Kenapa? Ada yang aneh?” Amanda juga memperhatikan dirinya sendiri yang ditatap seperti itu oleh Dennis. Lelaki itu hanya mengedikkan bahu sambil membuka kaleng cola yang memang sudah tersedia di kulkas Amanda. “Gue perhatiin dari tadi pagi kamu pakai baju ini? Enggak punya baju lain? Atau enggak mandi?” ujar Dennis mulai kurang ajar. Karena sikap Amanda yang friendly membuatnya lebih nyaman mengutarakan maksudnya meskipun mereka baru kenal dua belas jam. “Enggak mandi,” jawab Amanda enteng. “Whatt!” “Iya, pengiritan.” “Pengiritan apaan?” “Pengiritan air, sabun, shampo dan baju bersih,” kekeh Amanda “Jangan bilang kamu juga enggak gosok gigi? Karena irit pasta gigi?” Dennis menatap heran pada wanita ajaib terjorok yang pernah dia kenal. “Enak aja, aku selalu sikat gigi dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur!” sengit Amanda. “Deodorant?” Amanda menggeleng, pasalnya dia paling tidak nyaman dengan bau badan. “Aku enggak pernah pake deodorant.” Dennis membulatkan mata sempurna, antara takjub dan jijik. “Tenang aja, aku enggak bau badan kok meski enggak mandi lima hari.” Amanda berdiri dan membuang sampah bekas snacknya, lalu berjalan meninggalkan Dennis. “Rekor engak mandi kamu berapa hari?” “Tujuh! Sudah ah, aku ngantuk.” Amanda masuk ke kamar dan menutup pintu kamarnya, lalu dia membuka pintu lagi. “Hari ini baru hari ketiga aku enggak mandi dan aku mau pecahin rekor sampai sepuluh hari.” Amanda terkekeh lagi lalu menutup pintu itu, yang membuat Dennis sukses menganga tak percaya. Diapun mengurut dadanya, sambil mengucap sabar berkali-kali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN