"Kamu ... kamu gila?" bisik Salsa dengan suara yang hampir habis. Elang hanya menaikkan satu alisnya, menatap Salsa tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Bukankah itu yang kamu butuhkan sekarang, Dokter? Tidak perlu melibatkan perasaan, cukup penuhi saja tuntutan hormon kamu itu." "Ya, ketimbang kamu mendesah, memanggil nama saya seperti tadi," lanjut Elang kemudian tertawa lagi. Darah Salsa mendidih. Rasa malunya kini berganti menjadi keberanian nekat yang dipicu oleh harga diri yang terusik. Oke, kamu mau main-main, Pak Pengacara? batinnya. Salsa tidak lagi melarikan diri. Sebaliknya, ia bergerak gesit merangkak di atas ranjang, memangkas jarak di antara mereka hingga ia berada tepat di depan wajah Elang. Tanpa ragu, Salsa menjulurkan tangannya dan menarik kerah piama tidur Elang d

