Malam itu sesuai ucapan Dokter Kamal Nathan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Sekujur tubuh Zara semakin lemas melihat kondisi putranya dengan kepalanya mengenakan perban, seluruh tubuhnya hanya mengalami luka lecet. Wajah tampan bocah itu masih tampak pucat dan tenang dalam tidurnya. “Ya Allah, anakku,” ujar Zara pelan, air matanya kembali berderai tak bisa dibendung. Perlahan-lahan ia mengecup pipi anaknya. “Maafkan Mommy, Nak,” lanjut kata Zara begitu lirih. Davendra dan Reza yang turut berdiri di tepi ranjang ikut bersedih hati saat melihat jelas kondisi Nathan, hingga mereka berdua tidak mampu berkata apa pun. Davendra menarik napasnya dalam-dalam, lalu menatap iba pada Zara. “Reza, kamu kalau mau kembali ke hotel kembalilah. Tapi besok pagi-pagi datang ke sini bawakan baju ga