Diaz akhirnya terdiam untuk beberapa saat. Kalau boleh jujur, ia sebenarnya bingung dengan segala hal yang harus ia lakukan sekarang. Mudah mencari seseorang yang bekerja dengannya, tapi tidak mudah mencari orang yang mau menyayangi putranya dengan tulus.
Diaz sampai tak bisa berkata-kata, lidahnya terlalu kelu untuk berucap. Dan segala hal yang ada kini tampaknya terasa begitu sulit, meskipun ia memiliki banyak uang.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya ia menatap ke arah arlojinya dan... "Sudah saatnya aku menjemput putraku." balas Diaz. Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan ia letakan di meja untuk membayar segala pesanan mereka tadi. "Mungkin cukup sampai di sini pertemuan kita hari ini, dan mungkin – aku juga akan mencoba mencari pengasuh untuk putraku. Tapi, aku juga minta bantuan padamu untuk mencarikan orang yang cocok juga." ujar Diaz pada saat itu.
"Hm, ya. Aku akan cari untukmu. Aku akan mencari yang cantik juga, siapa tahu kamu tertarik." balas Heri sembari mengeringkan satu matanya untuk menggoda sahabatnya itu.
"Jangan macam-macam, Heri. Aku masih sedikit trauma dengan masalah percintaan." Diaz mendengus kesal, sebelum akhirnya ia pergi dari sana untuk menjemput putranya.
Diaz tak perduli dengan segala godaan yang diberikan temannya tadi, yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara mencari pengasuh terbaik untuk putranya.
Diaz keluar dari cafe, dan ia menuju ke arah parkiran lalu mengemudikan mobilnya menuju ke TK di mana putranya tengah belajar.
Putra Diaz masih berusia 6 tahun, dan ia memasukannya ke sebuah TK swasta di kotanya tinggal. Biasanya, ia jarang sekali menjemput putranya secara langsung, tapi – karena kali ini ia sedang tidak masuk kantor, maka ia punya waktu luang untuk menjemput putranya.
Mobil melaju di jalanan yang mulai ramai, perasaan Diaz campur aduk dan tak menentu.
***
Sementara itu di sebuah Taman kanak-kanak, seorang anak berusia 6 tahun yang begitu tampan tampak sedang bermain bersama seorang guru cantik.
"Miss, Kenzo senang bermain dengan – Miss." ujar Kenzo Atmajaya sembari memeluk seorang wanita cantik yang tengah jongkok di dekatnya.
"Aku juga senang bermain dengan Kenzo, sekarang sudah waktunya pulang. Kenapa Kenzo masih di sini? Padahal teman-teman Kenzo sudah pulang sedari tadi."
Wajah tampan Kenzo seketika murung, ia memang biasanya dijemput oleh salah satu sopir yang ditugaskan untuk mengantar jemputnya, tapi hari itu – entah mengapa sang sopir datang terlambat. Untungnya masih ada salah satu guru TK yang masih belum pulang, dan ia akhirnya berjanji akan menemani Kenzo sampai orangtuanya datang menjemputnya.
"Kenzo, orangtua kamu sibuk ya?" tanya sang guru saat ia melihat Kenzo tampak murung. Kenzo mengangguk pelan pada saat itu.
"Papa ke kantor, mama ke salon." jawab Kenzo dengan suara lirih.
"Lalu, siapa yang biasanya menjemput Kenzo?" tanya sang guru dengan suara lembut.
"Biasanya ada pak sopir, tapi pak sopir entah kemana." balas Kenzo dengan sangat sedih.
"Sudah-sudah, jangan sedih. Ada Miss di sini, kamu tidak usah sedih."
***
Sementara itu, Diaz yang terjebak macet akhirnya sampai di tempat putranya berada jauh lebih telat. Wajahnya pucat saat melihat TK tempat putranya berada sudah sangat sepi. Dengan perasaan gelisah, ia akhirnya keluar dari mobil dan berlari menuju ke arah TK.
Diaz sungguh khawatir putranya menangis sendirian di sana, karena ia mulai melihat suasana di sana sudah sangat sunyi. Dan yang membuatnya lebih takut lagi, bisa saja putranya di culik oleh seseorang karena adanya kesempatan.
"Kenzo!" teriak Diaz. Ia terus berusaha mencari putranya ke dalam. Saat beberapa saat berjalan, akhirnya ia bisa bernafas lega saat melihat putranya tengah memeluk seorang wanita yang tampaknya mengenakan baju seragam guru yang mengajar di sana.
"Papa!" seru Kenzo saat ia melihat papanya tengah berjalan tepat di belakang seorang wanita yang menemaninya sedari tadi.
"Astaga, ternyata kamu di sini. Maaf ya, papa datang telat." gumam Diaz saat putranya mulai berlari ke arahnya.
"Papa sangat terlambat! Untungnya ada Miss Cantik yang menemani Kenzo." balas Kenzo dengan menggebu-gebu.
"Iya, papa minta maaf. Kalau begitu, papa ucapkan terimakasih pada Miss siapa tadi?" tanya Diaz. Ia tampak berdiri dan berjalan mendekat ke arah seorang wanita yang tampak tengah berdiri dan masih memunggunginya.
"Cantika, pak." ujar wanita itu sembari membalikan tubuhnya. Namun...
Degh! Batin Diaz saat melihat wanita yang ada di hadapannya. Matanya membola saat melihat siapa yang kini tengah berhadapan-hadapan dengan dengan dirinya. Tak hanya Diaz saja yang terkejut, wanita yang tengah menatapnya itu tampak ikut terkejut dengan mata yang terbelalak sepenuhnya.
"Ca–cantika Liliana?" gumam Diaz saat ia mengetahui siapa orang yang ada di hadapannya.
"Di–diaz?" gumam Cantika.
Kenzo yang melihat reaksi dari keduanya akhirnya menatap satu sama lain dengan bergantian. Kenzo yang sedang di bopong oleh papanya, dengan tangan melingkar di leher papanya itu akhirnya memperhatikan sang papa dan gurunya dengan waktu bergantian.
"Papa kenal dengan Miss Cantik?" tanya Kenzo dengan sangat bingung. Papanya tampak tidak menjawab, ia malah tertegun saat melihat Cantika Liliana yang ada di hadapannya yang merupakan salah satu mantan kekasihnya.
Cantika yang mendengar ucapan Kenzo akhirnya tersenyum manis pada Kenzo. "Dulu kami berteman, nak. Itu sebabnya Papa kamu kenal sama Miss. Berhubung papa kamu sudah jemput, kalau begitu – Miss pamit pulang." ujar Cantika sembari hendak bergegas pulang. Wanita cantik dengan mata coklat itu tampak berlalu meninggalkan mereka berdua. Namun, seketika...
"Tunggu! Cantika..." panggil Diaz. Cantika terkejut sembari menelan ludahnya dengan sangat kasar. Wajahnya sudah tampak tegang di saat ia bertemu dengan masa lalu yang sebenarnya ingin ia lupakan.
Dengan berat hati, ia membalikan tubuhnya untuk mendengar apa yang akan Diaz katakan. Saat ia berbalik, ia juga melihat Diaz tampak berbalik dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Terimakasih karena kamu sudah menemani putraku." ujar Diaz dengan suara lirih. Mereka menatap satu sama lain untuk sejenak, sebelum akhirnya Cantika mengangguk pelan sembari tersenyum kaku.
"Sama-sama, pak. itu sudah tugas saya. Kalau begitu, saya pamit. Hati-hati di jalan." ujar Cantika sebelum akhirnya ia meninggalkan ayah dan anak itu di sana.
"Papa, papa.. Papa!" Kenzo sampai berkali-kali memanggil papanya pada saat itu.
"Eh, iya..., nak?"
"Papa kenapa melamun terus, papa suka ya sama Miss Cantik?" goda Kenzo. Diaz menelan ludah saat mendengar ucapan dari putranya.
"Ti–tidak, bukan begitu kok, nak. Papa hanya – mengingat kenangan masa lalu yang hampir papa lupakan." balas Diaz dengan suara pelan, nyaris tak terdengar.