Kelopak mata Eshita mengerjap saat merasakan elusan lembut di pipinya. Ketika membuka mata, hal pertama yang tertangkap adalah wajah Adhikara yang terlalu dekat—dengan senyum tipis terulas di bibirnya. “Capek sekali ya di sekolah sampai ketiduran?” Sebelum menjawab, Eshita mengedarkan pandangan ke sekeliling setelah penglihatannya benar-benar jelas. Detik berikutnya dia menegakkan punggung begitu menyadari mereka masih berada di dalam mobil. Adhikara tadi menjemputnya di sekolah. “Maaf, Kak,” ucapnya lirih dengan suara serak, rasa bersalah menyusup pelan. “Tanpa sadar saya malah—” “Tidak apa-apa, Eshita,” potong Adhikara sambil menggeleng. Dia kembali duduk tegak di joknya, lalu melepaskan sabuk pengaman. “Saya tidak langsung mengantarmu pulang. Kita ke sini dulu, ya?” Kerut halus mun

