“Kamu yakin setuju mereka balikkan, Yang?” Tanya Cilla ketika wanita itu tengah mengompres wajah suaminya dengan es batu. “Mau bagaimana lagi, Yang. Mereka sudah sama – sama dewasa, malah mereka sudah tidur bersama begitu. Dosa banget aku kalau nggak setuju. Lagipula, kejadian dulu bukan sepenuhnya salah Miko, ya walaupun cara yang dia ambil agak salah.” Cilla mengangguk seolah paham. Dia pun kembali mengingat – ingat kejadian hampir sepuluh tahun lalu di mana adik bungsu Miko datang ke sini di suatu malam dengan kucuran air mata. Malam itu, Umar yang memang suka berjaga di pos depan jikalau tidak ada pekerjaan memberitahu Dior bahwa ada seorang remaja yang tengah mencari Irna. Ketika Dior akhirnya mengizinkan remaja itu masuk, yang ia dapati adalah lelehan air mata. “Mbak Irna mana? Man