Raka terus mendekat, membuat Nara terpojok. Tatapannya tajam, penuh tekanan yang membuat Nara gemetar. Tangannya kembali mendorong d**a Raka, pelan tapi jelas. “Mas Raka… Berhenti,” ucap Nara dengan suara bergetar. “Aku tidak siap.” “Kamu sudah menjadi istriku. Dan sudah seharusnya kamu melayani aku.” “Iya, tapi aku belum siap. Aku butuh waktu.” Raka tidak mempedulikan permintaan Nara. Raka naik ke atas kasur dan terus mendekat dengan tubuh Nara. Hingga akhirnya punggung Nara mentok pada divan kasur. Kini wajah mereka sangat dekat. Tidak ada jarak diantara keduanya. Raka terus menyurusi wajah Nara. Matanya yang bulat sempurna, bola matanya yang berwarna cokelat muda, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis semuanya tampak serasi. “Kamu sangat cantim, Nara.” “Mas, cukup!!” b

