BAB 9

1256 Kata
Hari penyerahan proposal seharusnya menjadi momen pembuktian bagi Aurelia. Sejak fajar menyingsing, ia sudah terjaga, mempersiapkan diri dengan dedikasi yang nyaris religius. Ia menghafal setiap poin narasi iklan, mendalami data riset pasar, hingga memprediksi pertanyaan kritis yang mungkin dilontarkan oleh pihak PT. Real Food and Health. Baginya, ini bukan sekadar tugas kantor; ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa ia mampu berdiri tegak di tengah badai kehancuran pribadinya. Ia tidak ingin mengecewakan Aiden, sosok direktur yang—entah mengapa—memberinya ruang untuk percaya bahwa bakatnya berharga. Aurelia berdiri di depan cermin, merapikan blazer hitam yang sedikit longgar di bahunya. Ia menyematkan pin mawar kecil di d**a, sebuah detail kecil yang ia harap bisa membawa keberuntungan. Namun, tepat saat ia akan menyambar tas kerjanya, dering ponsel memecah keheningan apartemennya. Itu telepon dari kampung halaman. Jantung Aurelia mencelos. "Kakek lagi nggak enak badan, Aurel," suara kerabat yang merawat sang kakek di ujung telepon terdengar getir. "Dari kemarin tidur terus, makan pun susah. Kami khawatir." "Kok nggak dibawa ke rumah sakit?" tanya Aurelia, suaranya bergetar menahan panik. "Niatnya sih sore ini, tapi..." "Ada uang, nggak? Kalau nggak ada, aku transfer sekarang. Jangan tunggu sampai parah!" potong Aurelia cepat, tanpa memberi kesempatan bagi kerabatnya untuk menjelaskan kesulitan keuangan mereka. "Kami butuh biaya untuk ongkos dan mondar-mandir selama Kakek dirawat nanti, Rel. Maklum, rumah sakit di kota cukup jauh." Tanpa pikir panjang, Aurelia membuka aplikasi perbankan di ponselnya dan mengirimkan jumlah yang cukup besar, hampir seluruh sisa tabungannya bulan ini. Baginya, kesehatan sang kakek adalah segalanya. Setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan saat ia remaja, disusul kepergian neneknya, kakeknya adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki. Pria tua itulah yang rela banting tulang, hidup dengan jatah makan yang minim, hanya untuk membiayai kuliah Aurelia. Bahkan saat ia sudah bekerja, Aurelia masih kerap mengirim uang, sementara ia sendiri harus berhemat dengan bekerja paruh waktu sebagai guru les anak SMP di sela-sela jam kantor. Rencana Aurelia sebenarnya sederhana: ia ingin segera sukses agar bisa membawa kakeknya tinggal di kota, memberikan perawatan medis yang layak, dan hidup tenang di masa tua. Sayangnya, impian itu terasa kian menjauh. Rencana pernikahannya dengan Raffan yang diharapkan menjadi titik balik kemapanannya kini batal total, meninggalkan luka yang belum juga mengering. Saat menyusuri gang sempit menuju jalan raya untuk menaiki angkutan umum, pikiran Aurelia berkecamuk. Langit pagi itu tampak mendung, seolah mencerminkan perasaannya. Selain cemas akan kondisi sang kakek, ia masih berjuang melawan trauma patah hati. Asmanya sering kambuh akibat stres yang menumpuk. Raffan, pria yang pernah menjadi tunangannya, bahkan tidak pernah lagi menghubunginya setelah skandal memuakkan dengan Amora terkuak. Ia merasa sendiri, terhimpit di antara tuntutan pekerjaan yang kejam dan realita hidup yang tidak berpihak padanya. Setibanya di kantor, sebuah kejutan pahit menantinya. Begitu melangkah masuk, ia mendapati meja kerjanya berantakan. Laci dokumennya terbuka lebar, dan yang paling mengerikan, map proposal yang ia susun dengan riset berbulan-bulan telah raib. Rekan kerjanya yang lain tampak sibuk, namun ada tatapan kasihan—atau mungkin ejekan—yang tertuju padanya. "Lo sih keras kepala. Coba kalau nurut, pasti lo bisa ikut mereka," celetuk Tristan sambil berlalu, sengaja mengeraskan suaranya. Aurelia mendekati Zara, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Zara hanya menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan kepuasan yang tertahan. "Aurelia, lo emang pintar, tapi ingat, ketua tim itu Pak Joel. Lagipula, Pak Firman sendiri yang secara khusus menginstruksikan agar Pak Joel dan Amora yang pergi presentasi ke kantor pusat Real Food." Terkutuklah mereka semua, batin Aurelia. Ia terduduk lemas di kursinya. Rasanya napasnya tersengal, bukan karena asmanya, melainkan karena rasa dikhianati yang sangat nyata. Kerja kerasnya dirampas begitu saja, tanpa izin, tanpa rasa malu, dan tanpa pertimbangan bahwa ia adalah otak di balik semua riset tersebut. Saat ia berniat untuk pulang lebih awal karena tak sanggup lagi menahan tangis, panggilan dari ruang Direktur justru menghentikannya. "Aurelia, masuk!" suara Pak Firman menggelegar dari balik pintu kayu mahoni. Dengan langkah lunglai, Aurelia masuk. Ia menatap lurus ke arah sang direktur yang duduk dengan angkuh di balik meja kerjanya. "Aurelia, aku tahu kamu kecewa, tapi aku yang memerintahkan timmu untuk pergi," ujar Pak Firman dingin, tanpa rasa bersalah. Aurelia menatap lurus ke arah sang direktur. "Kenapa, Pak? Proposal itu saya yang menyempurnakan. Saya yang tahu setiap detail strateginya." "Memang kamu yang menyempurnakan, tapi timmu yang mengerjakan. Lagipula, dengan adanya Amora yang luwes dan pandai presentasi, saya yakin pihak Real Food akan lebih terkesan. Maaf ya, bukan bermaksud body shaming, tapi kenyataannya memang seperti itu. Bisnis itu tentang citra, Aurelia." Dunia Aurelia seakan runtuh. Ia adalah salah satu pegawai teladan yang mendedikasikan hidupnya demi perusahaan, namun di mata sang direktur, ia tidak ada artinya hanya karena penampilannya tidak sesuai dengan standar kecantikan yang dangkal. Sementara itu, di sebuah kafe mewah dekat kantor pusat, Joel dan Amora sengaja menghabiskan waktu sambil "memoles" proposal milik Aurelia. Mereka mengubah nama kreator menjadi nama mereka sendiri dengan wajah tanpa dosa. Amora sibuk menghafal materi di bawah bimbingan Joel yang terus mendukungnya, memberikan pujian-pujian palsu yang membuat Amora merasa seolah-olah dialah sang jenius. Pukul dua sore, mereka tiba di kantor pusat PT. Real Food and Health. Tak lama kemudian, Aiden datang ke ruang rapat dengan penuh antusias, berharap bisa bertemu kembali dengan Aurelia. Ia sudah menyiapkan berbagai pertanyaan teknis yang ingin ia diskusikan dengan sang pencetus ide. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok lain di dalam ruangan. "Ke mana Aurelia? Kenapa hanya kalian yang datang?" tanya Aiden heran, tatapannya menyapu ruangan mencari keberadaan gadis itu. Amora tersenyum manis, berusaha memikat Aiden dengan gaya yang sudah ia latih di depan cermin. "Perkenalkan, Pak. Nama saya Amora. Biasanya saya yang presentasi dari tim kreatif kami." Aiden mengerutkan kening, alisnya bertaut tajam. "Kenapa kalian seenaknya mengganti tim di saat krusial seperti ini?" Joel, yang biasanya berani, tiba-tiba terbata-bata. "Pak, bukan begitu maksudnya. Amora lebih berpengalaman dalam menjelaskan materi. Kami pikir ini akan lebih efektif." "Hanya menjelaskan? Semua orang bisa melakukannya setelah menghafal skrip, tidak perlu orang khusus!" potong Aiden dingin. Suhu ruangan seakan turun drastis. "Saya menginginkan Aurelia karena dia yang menguasai materi secara mendalam, dia yang membuat strategi ini, dan dia satu-satunya yang bisa memberikan solusi atas semua pertanyaan saya. Kalian pikir saya mencari wajah, bukan isi?" Amora mencoba merayu, matanya berkaca-kaca secara dramatis. "Pak, tolong beri kami kesempatan. Kami yakin tidak akan mengecewakan." Aiden menatap Amora tajam, lalu melirik Joel dengan rasa jijik. Ia akhirnya menyadari bahwa perusahaan itu telah menyepelekan bakat nyata hanya karena tampilan fisik. Amarahnya memuncak, bukan karena proposal itu buruk, tapi karena integritas yang dilanggar. "Saya akan menelepon Pak Firman dan membatalkan kerja sama ini detik ini juga!" Joel dan Amora terbelalak, wajah mereka pucat pasi. "Pembatalan? Apakah kami bersalah, Pak? Kami kan hanya mengganti personel!" tanya Joel dengan suara gemetar. "Kalian jelas bersalah karena menyepelekan perusahaan saya dan menyepelekan orang yang bekerja keras di balik layar! Saya berani menggelontorkan dana besar untuk iklan ini, dan ini balasan yang saya dapat? Kalian benar-benar mengecewakan saya!" Aiden berbalik pergi dengan emosi yang meledak, membanting pintu ruang rapat hingga bergema di seluruh koridor. Ia segera memerintahkan sekretarisnya untuk menghubungi Firman. "Katakan pada mereka, jangan main-main dengan saya. Kalau tidak bisa memberikan tim dan orang yang terbaik, lebih baik batal kerja sama permanen!" Aiden merasa benar-benar membuang waktu. Ia bahkan sudah mengorbankan jadwal makan malamnya dengan Thalia demi pertemuan ini, hanya untuk disambut oleh dua orang pencuri ide yang tidak kompeten. Dalam hati, ada rasa kasihan yang mendalam untuk Aurelia. Baginya, kecantikan fisik sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kecerdasan dan integritas kerja. Ia bersumpah akan memastikan Aurelia mendapatkan haknya, apa pun yang terjadi pada Firman dan timnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN