PART 1

673 Kata
Kyra melihat pic yang Lian kirimkan satu menit yang lalu setelah sahabatnya itu selesai menghubunginya hanya untuk memberitahukan bahwa desain undangan pertunangannya dengan Kenzo sedang dalam tahap editing untuk menambahkan alamat dan waktu acara. Lian : So excited! Sampai ketemu nanti malam, Ky. Kyra menghela napasnya, meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dan mulai fokus ke pekerjaannya yang harus diselesaikannya saat ini juga. Saat ini Kyra bekerja sebagai editor di salah satu penerbit ternama di Bandung. Pekerjaannya itu sudah ia geluti selama 3 tahun, sejak dirinya lulus dari universitas. Karena nilai yang memuaskan dan juga pengalaman kerja selama berkuliah, Kyra berhasil masuk mengalahkan pesaing-pesaingnya dan mendapatkan posisi editor tetap dengan gaji yang setidaknya cukup untuk kebutuhannya. Sedikit cerita saja, gaji awal Kyra sekitar 1,5 juta dan terus meningkat hingga saat ini dikarenakan prestasinya dalam mengedit sebuah buku yang selalu berhasil masuk jajaran top 10 di toko buku. Kemampuannya membantu penulis dan mengubah buku menjadi lebih menarik mampu membuat bangga pimpinannya hingga saat ini. Mungkin gaji Kyra terlalu sedikit, terlebih lagi biaya hidup zaman sekarang menuntut Kyra untuk hidup dengan layak. Kyra tidak menyerah. Selain menjadi editor di salah satu perusahaan penerbitan, Kyra juga membuka jasa ilustrasi yang kemampuan menggambar dan mengeditnya tidak diragukan lagi. Untuk satu karya yang Kyra selesaikan, ia bisa mendapatkan sekitar 150 hingga 200 ribu. Hingga detik ini, Kyra baik-baik saja dengan itu semua. "Belum selesai juga?" Kyra menoleh ke asal suara, melihat Arka yang sudah kembali dari dapur dengan tangan yang membawa piring berisikan buah apel dan anggur yang dibawanya satu jam yang lalu. "Tinggal 10 halaman," jawab Kyra sembari melanjutkan kerjaannya menyunting naskah penulis ternama. Disaat Kyra kembali fokus pada naskahnya yang berjumlah 400-an halaman, Kyra dikejutkan dengan pelukan Arka yang mendadak. "Mau aku kasih keringanan, nggak?" Kyra menggeleng dan menjawab, "nanti pada ngegosip di kantor." Terdengar suara Arka menghela napasnya. "Sebenarnya juga nggak masalah aku kasih kamu keringanan. Udah 3 tahun kamu kerja dan pekerjaan yang berat selalu kamu handle. Kasih lah kesempatan yang lain." Kyra yang mendengar itu seolah merasa dirinya egois. "Bukannya apa, tapi kamu juga butuh istirahat yang cukup." "Kamu tahu mimpiku, Arka..." "Aku tahu, ke California. Aku pernah bilang, aku bisa biayain semuanya." Kyra mengembuskan napasnya, melepaskan kacamatanya dan berdiri dari tempatnya duduk untuk berdiri menatap Arka. "Aku juga udah pernah bilang, aku pengin ke sana dengan hasilku, bukan bantuan siapapun. Aku tahu niat kamu baik, tapi aku nggak bisa minta apa-apa sama kamu selama kita pacaran. Kamu tahu dengan baik prinsipku." "Aku tahu, tapi---" Kyra menghentikan perkataan Arka dengan pelukannya. Kyra selalu tahu caranya menghentikan Arka dan ia juga selalu tahu jika Arka tidak akan pernah berhenti membahas apa yang mereka bahas tadi. "Tolong jaga prinsipku." *** "Arka mana?" Kyra menoleh, melihat Kenzo yang tampak kebingungan karena mencari Arka. Kyra sendiri tidak tahu Arka di mana karena tadi ia langsung bergegas menemui Lian di kamarnya. Ketika dirinya turun ke lantai dasar, Arka sudah tidak terlihat. "Bukannya bareng lo?" tanya Kyra balik. "Kalau gue tau, nggak mungkin nanya lo, Ky..." "Ya siapa tau aja lo sengaja nanya..." "Buat apa coba?" "Yaudah lah Ken, telpon aja. Ribet." "Ponsel gue dipinjam Lian, lo coba telpon pacar kesayangan lo itu." "Nggak usah penekanan," ucap Kyra kesal, lalu mulai menghubungi Arka. Panggilan yang anda tuju tidak menjawab. Kyra seketika mengerutkan keningnya. Ini kali pertama Arka mengabaikan panggilannya. Kyra pun berniat untuk mengirim pesan kepada Arka. Kamu di mana? Arka tidak juga membalas pesan Kyra. Akhirnya Kyra mencoba untuk menghubungi Arka kembali, tapi tetap sama. Arka tidak menjawabnya. "Kenapa?" tanya Kenzo. "Dia nggak ngangkat." "Tuh anak kemana lagi, mobilnya juga nggak ada." "Gue pinjam mobil lo," ucap Kyra. "Mau ke mana?" "Menurut lo?" Kyra mulai merogoh saku celana Kenzo dan menemukan kunci mobil Kenzo. Setelahnya ia berlari keluar menuju mobil Kenzo. Kyra merasa aneh. Ini pertama kalinya ia memiliki firasat yang tidak enak dan semoga tidak terjadi apa-apa dengan Arka. Arka : Maaf, Ky. Mama meninggal, aku sekarang ada di rumah. Saat menerima pesan itu, Kyra diam di teras rumah Lian dengan perasaan yang tidak karuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN