Keputusan
***
"Kenapa dua minggu yang lalu kamu tidak hadir wawancara interview?" tanya Pangaribuan.
Dosen Pangaribuan, itu yang sering anak-anak jurusan memanggilnya. Namanya saja khas banget, sesuai dengan sifat dan logatnya. Dosen paling galak sekaligus punya usaha pribadi.
Walau usianya sudah mapan dan bercukupan umur, masih banyak anak-anak jurusan mengidolakan dirinya. Bukan Samuel doang yang diidolakan. Pangaribuan lah yang paling diidolakan oleh anak-anak jurusan tersebut. Meskipun galak di kelas, aslinya care, royal, dan baik banget. Beda waktu ngajar.
Yulia diam tidak bisa menjawab pertanyaan dari dosennya. Jika dia ingat kembali mungkin rasa emosinya tidak akan terkontrol, apalagi sekarang dia ingin segera keluar dari ruangan dosen. Aroma di ruangan sangat mual untuk dirinya saat ini.
"Yulia? Kamu baik-baik saja?" dosen itu bertanya lagi.
Tidak biasanya sikap muridnya berubah. "Maafkan saya, Pak. Soal interview kemarin, saya tidak sempat datang. Karena ada hal jauh lebih penting. Mama saya sempat mendadak pingsan, jadi ...."
"Saya ngerti, saya hanya memastikan saja. Jadi bagaimana kesehatan mama kamu? Sudah lebih baik?" Dosen itu tidak ingin memperpanjang masalah soal hadir atau tidaknya.
"Sudah, Pak," jawab Yulia, terpaksa dia berbohong lagi. Dan mengambil nama mamanya sebagai tamengnya.
Dosen itu berikan lagi selembar kepada Yulia. Persyaratan untuk menerima pekerjaan di tempatnya. "Tapi, Pak!"
Dosen itu cukup berikan senyum. "Keputusan ada di tanganmu. Bapak tidak memaksa kamu menerima atau tidak. Kapan kamu siap, kamu bisa datang ke toko saya," ucapnya.
Sherina menunggu di luar. Sembari melihat mading pengamanan. Sesekali mengintip. Beberapa saat kemudian Yulia keluar dari ruangan dosen. Sherina pun menghampirinya.
"Bagaimana?" tanya Sherina penasaran.
Yulia tidak menjawab dia melihat isi kertas diberikan oleh Pangaribuan tadi. Sherina pun merebut kertas itu. Sebuah persyaratan staf tetap di toko Bakery Housemate.
"Kamu lamar pekerjaan di usaha Dosen pangaribuan?" heboh Sherina.
Yulia malah diam dia memilih ke depan kampus. Dia masih bingung. "Yul,"
"Aku gak tau, Rin. Aku masih bingung," kata Yulia pada Sherina.
Sherina menepuk pundak Yulia. "Coba saja dulu. Setidaknya kan usaha. Daripada nanti kamu galau lagi. Mana tau dari rutinitas kerja kamu bisa melupakan dia, terus dapat jodoh lebih baik lagi," canda Sherina.
Yulia memasukan kertas itu ke dalam tas. Tiba-tiba turun hujan. Dia tidak bawa payung lagi. "Kok tiba-tiba ujan gini sih?" ngomel Sherina.
Yulia terpaksa menunggu sampai hujannya reda. Anak-anak jurusan juga pada menunggu. Ada sebagian sudah pulang terlebih dahulu. Tinggal beberapa manusia ada di kampus. Sebentar lagi kampus juga tutup.
Yulia jadi teringat, teringat dimana hujan itu menyelimuti dirinya saat Samuel datang membawa payung kepadanya. Sekarang tidak akan ada lagi. Untuk berbarengan dan diajak buat nebeng kendaraan pun tidak ada. Seakan kenangan itu hanya kepalsuan.
"Belum pulang?" Yulia menoleh, suara itu menyadarkan lamunannya. Hingga baju dan kepalanya sempat tergenang air hujan.
Hardi mengarahkan payung kepadanya. Melihat wanita itu berdiri seorang diri. Bukan, Yulia bersama teman India itu. Tetapi si India itu entah pergi kemana dan meninggalkan Yulia seorang diri di sana.
Hardi memandang wajah Yulia yang sedikit pucat. Yulia kembali memandang rintihan hujan itu. Padahal dia mulai menggigil hujan itu belum juga berhenti semakin deras saja. Lalu ponsel Yulia bergetar dari Sherina. Sherina pamit pulang terlebih dahulu nebeng anak jurusan lain.
Hardi sempat membaca isi pesan dari teman Yulia. Yulia pun kembali memasukan ponselnya. Dia juga akan segera menerobos hujan itu. Kendaraan roda tiga tidak terlihat. Mau tak mau dia memilih jalan kaki menuju ke kontrakan. Padahal rumah kontrakan lumayan jauh.
"Kamu mau ke mana?"
Hardi mencegah Yulia. Hardi tau gerak-gerik dan kenekatan Yulia terbilang bandel. "Pulang, memang ... kamu gak pulang?" jawabnya setengah menggigil.
Yulia terdiam, Hardi menyentuh kening Yulia. "Kamu demam?"
Kekhawatiran Hardi memicu penolakan perhatian oleh Yulia. "Gak!"
"Kamu coba nerobos hujan? Jangan ngeyel. Demam itu bukan main-main. Tunggu di sini, aku ambil mobilku," Hardi serahkan payung kepada Yulia.
Yulia diam di tempat lampu depan kampus telah padam. Dia merasa seperti manusia t***l. Daripada dia menunggu, dia pun tetap berniat untuk jalan kaki pulang.
Mobil Hardi berhenti di depan kampus, tapi tidak menemukan Yulia di sana. "Itu cewek!"
Hardi menancap gas mencari Yulia. Yulia sudah berjalan sangat jauh. Kembali lagi dia merasakan rasa sakit pada kepalanya. Sejenak dia berhenti salah satu rumah sebagai teduhan. Dia sejenak untuk istirahat. Kemudian dia berjongkok untuk memuntahkan isi perutnya.
Lalu dua laki-laki lewat menampakan diri seorang wanita tengah dalam keadaan lemas dan muntah-muntah. "Hai, Adik cantik, kenapa? Sakit?"
Yulia mendengar itu pun menoleh, aroma menyengat di hidungnya kembali tercium dia menjauh dan kembali memuntahkan isi didalam perut. Tetapi dua laki-laki itu saat akan mendekati Yulia. Seseorang malah mencegah dan membuat dua laki-laki itu pergi begitu saja.
"Kamu gak apa-apa? Sudah aku bilang, tunggu sebentar," ngomel Hardi.
Yulia menepis dan mencoba berdiri. Tetapi rasa pusing itu semakin menjadi dan pandangan pun kabur. "Yulia!"
Hanya suara Hardi terus memanggil namanya, namun Yulia tidak merespons. Dengan cepat Hardi membawa Yulia masuk ke mobilnya dan pertolongan pertama.
***
Esok paginya, Yulia bangun selama berjam-jam. Dia merasa rasa pusing di kepala mulai berkurang. Namun di sisi lain dia merasa berada di tempat asing. Aroma obat yang tidak dia sukai. Seakan rasa mual itu kembali mengocok perutnya.
"Baik, Dok! Makasih, ya," ucap Hardi. Setelah dokter itu menangani Yulia.
Yulia bangun dan mencoba untuk meluruskan badannya. Hardi masuk ke kamar rawat. Melihat wanita itu sudah sadar. Setelah berapa jam pingsan karena tekanan darah menurun.
"Kamu perlu banyak istirahat, kenapa kamu memaksa diri masuk kampus, kalau kesehatan kamu belum membaik?" ucap Hardi, malahan menjadi seorang malaikat dan perhatian padanya.
"Aku ada di mana?" tanya Yulia. Malahan dia tidak menjawab pertanyaan Hardi.
"Ada di rumah sakit, kamu gak ingat? Kemarin malam kamu pingsan, karena memaksa jalan kaki pulang dalam keadaan basah kuyup?" kata Hardi.
Suara pintu terdengar. Seorang perawat membawa makanan untuk pasien tidak lupa juga dengan obat yang akan di minum nanti.
"Bagaimana Bu Yulia? Sudah lebih baik? Jangan lupa di makan ya, habis makan, ini obat di minum, agar imun nya naik," ucap perawat tersebut.
Hardi membawa bubur dan juga ikan goreng lalu berikan kepada Yulia. Yulia melihat makanan di depannya. Dia merasa tidak selera makan.
Yulia mencoba untuk menikmati makanan itu. Dia tidak ingin terlihat lemah di mata Hardi. Yulia masih belum bisa mengajak bicara secara baik-baik pada Hardi. Karena dia merasa Hardi akan sama dengan Samuel nantinya. Saat dia akan memasukan satu suapan makanan ke mulutnya. Untuk mengunyah saja rasanya hambar, bahkan rasa itu jauh menyiksa. Segera dia memuntahkan isi belum sempat dia telan ke tisu tersebut. Hardi yang melihat pun merasa begitu khawatir. Apalagi dokter sempat berkata,
"Teman Anda sedang mengalami depresi berat, jika bisa jangan membuat dia terlalu banyak berpikir. Akan kasihan pada kandungan yang masih kecil, jika tidak dijaga dengan baik, akan mengalami keguguran itu akan membuat dirinya semakin depresi nantinya."
Ketika Hardi mendengar penjelasan dokter tersebut. Hardi shock. Beberapa minggu dia memang tidak melihat Yulia berada di kampus. Dengan segala kebohongan pada Yulia, bisa Hardi ketahui. Kalau Yulia sedang menyembunyikan sesuatu. Pasti berat. Apalagi Samuel tiba-tiba harus menghilang dan meminta jagain Yulia hingga dirinya berhasil.